Surabaya, kartanusa — Semangat Fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) untuk menjadi yang terbaik harus terus ditekankan dalam setiap lini kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan peresmian Gedung Baru dan Muhammadiyah Sport Center SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya (Spemlibels), yang turut memperkaya perspektif keislaman dan kebangsaan. Ahad (27/09/2026).
Tafsir Fastabiqul Khoirot dan Pelajaran dari Andalusia
Dalam pemaparannya yang sarat makna, menafsirkan nilai fastabiqul khoirot ala Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., dimana fastabiqul khoirot difahami sebagai berlomba-lomba menjadi yang terbaik dari yang baik, sehingga menjadi yang berkualitas dan unggul.
Prof. Abdul Mu’ti merujuk pada pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 110, sebuah pemahaman yang juga sejalan dengan penafsiran dalam Tafsir Al-Qur’bī, nama lengkapnya adalah Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Artinya :“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110).
Sebagai refleksi sejarah, disampaikan pula bagaimana potret peradaban di Spanyol masa lalu (Andalusia). Kondisi historis tersebut mencatatkan sebuah ironi yang menarik jika dibandingkan dengan Indonesia saat ini; di mana wilayah yang kini mayoritas beragama Katolik tersebut justru menyimpan dan mewariskan begitu banyak bangunan serta jejak sejarah peradaban Islam yang megah.
“Hal ini menjadi pengingat akan pentingnya kontribusi umat Islam dalam membangun peradaban yang kokoh dan berdampak panjang.” Ungkapnya.
Komitmen Kemendikdasmen: Memajukan Sekolah Swasta dan Negeri Tanpa Tebang Pilih
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan pula arah kebijakan strategis dari Kementerian Pendidikan dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia. Pemerintah menegaskan komitmen penuh untuk memberdayakan seluruh satuan pendidikan, baik sekolah swasta maupun sekolah negeri, tanpa diskriminasi.
“Pemerintah bercita-cita agar sekolah swasta dan negeri dapat tumbuh bersama menjadi institusi yang maju dalam rangka mewujudkan ekosistem pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak bangsa.” Tegasnya Prof. Abdul Mu’ti.
Menurutnya, penataan pendidikan pun kini telah dimulai secara menyeluruh di berbagai lini, yang meliputi:
- Penguatan sarana dan prasarana penunjang belajar.
- Peningkatan kualitas dan kompetensi pendidik.
- Kebijakan pembiayaan pendidikan yang lebih berkeadilan.
- Perhatian serius terhadap kesejahteraan guru.
Memahami Dimensi Kurikulum: Hidden Curriculum dan Written Curriculum
Transformasi pendidikan juga tidak lepas dari pemahaman mendalam mengenai perangkat pembelajaran di sekolah. Dalam praktiknya, dunia pendidikan mengenal adanya perpaduan antara kurikulum formal (written curriculum atau explicit curriculum) dan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum).
Pertama, Hidden Curriculum (Kurikulum Tersembunyi): Merujuk pada nilai-nilai, norma, sikap, atau kebiasaan yang tidak tertulis dan tidak secara resmi direncanakan dalam dokumen, namun secara nyata dipelajari oleh siswa melalui pengalaman langsung, kultur sekolah, serta interaksi sosial di lingkungan institusi pendidikan.
Kedua, Written / Explicit Curriculum (Kurikulum Formal / Tertulis): Merupakan dokumen resmi atau rencana pembelajaran terstruktur yang secara terbuka, sadar, dan tertulis disusun oleh lembaga pendidikan untuk diajarkan kepada siswa.
“Kombinasi harmonis antara penyiapan infrastruktur, kesejahteraan guru, kebijakan inklusif pemerintah, serta penguatan nilai moral melalui kurikulum formal dan tersembunyi inilah yang diyakini mampu melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, berkemakteran, dan berdaya saing global.” Pungkasnya. (Humas/Gus).









