spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeBeritaRibuan Warga Saksikan Opera Kolosal “Merah Putih Bertanya” di Jalan Tunjungan, Eri...

    Ribuan Warga Saksikan Opera Kolosal “Merah Putih Bertanya” di Jalan Tunjungan, Eri Cahyadi dan Rini Indriyani Ikut Tampil

    Surabaya, kartanusa – Semangat perjuangan Arek-Arek Suroboyo kembali bergemuruh di jantung Kota Pahlawan. Sebanyak 750 pemain teater sukses menghidupkan kembali suasana heroik lewat Opera Kolosal “Merah Putih Bertanya” di Jalan Tunjungan, tepat di depan Hotel Majapahit Surabaya. Dilansir dari laman resmi media sosial Suara Surabaya pada Sabtu (26/09/2026).

    Pertunjukan akbar ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, seniman, komunitas, Karang Taruna, Cak dan Ning Surabaya, Paskibraka, hingga para musisi lokal.

    Mengenang Peristiwa Bersejarah Hotel Yamato

    Opera kolosal ini mengangkat kembali peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa, yakni “Peristiwa Perobekan Bendera pada 19 September 1945” di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit). Pertunjukan menggambarkan detik-detik saat Arek-Arek Suroboyo dengan berani menurunkan bendera Belanda, merobek bagian warna birunya, hingga kembali berkibarnya Sang Saka Merah Putih.

    Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turut ambil bagian langsung dalam pementasan ini. Ia tampil memerankan tokoh Residen Sudirman dalam adegan perundingan sengit dengan Mr. Ploegman terkait berkibarnya bendera Belanda.

    Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Surabaya Rini Indriyani tampil memukau sebagai Ibu Pertiwi dengan membawakan pembacaan puisi yang menggugah emosi penonton pada bagian akhir pertunjukan.

    Simbol Perlawanan dan Martabat Bangsa

    Dalam sambutannya saat pertunjukan, Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa aksi heroik perobekan warna biru pada bendera Belanda memiliki makna mendalam yang melampaui sekadar konflik fisik di masa lalu.

    “Yang mereka robek bukan sekadar warna pada selembar kain. Mereka merobek kesombongan penjajahan. Mereka menegakkan martabat Indonesia.” Ujar Eri di hadapan penonton yang memadati Jalan Tunjungan.

    Pementasan ini dikemas secara unik dengan konsep human statue atau living monument. Para pemain tidak hanya memerankan tokoh-tokoh cerita sejarah, tetapi juga menyatu dengan ruang publik untuk menghadirkan kembali atmosfer Surabaya di masa perjuangan secara nyata dan dekat dengan masyarakat. (Humas/Gus).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here