Depok, kartanusa — Kegiatan Gerakan Depok Mengaji Kitab Kuning kembali digelar di kediaman Wali Kota Depok, Jawa Barat. Pada kesempatan kali ini, kajian rutin tersebut membedah Pasal 9 Kitab Syarah Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah Asy-Sakandari, yang berfokus pada pembahasan mengenai amal, ahwal (keadaan batin), dan warid (pemberian spiritual).
Hadir sebagai narasumber utama, KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) periode 2014-2019. Dilansir dari laman resmi media sosial pribadi milik pribadinya pada Sabtu (26/09/2026).
Dalam paparannya, KH. Ma’ruf Amin menyampaikan bahwa hikmah utama yang dikaji bersumber dari bait hikmah:
تَنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ الأَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الأَحْوَالِ
Artinya :“Beragamnya jenis amal disebabkan beragamnya warid atau keadaan batin yang datang ke dalam hati.”
Hati sebagai Panglima Amal
Lebih lanjut, KH. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa makna sederhana dari warid adalah karunia atau limpahan cahaya ilahi yang turun ke dalam hati seorang hamba. Proses turunnya warid ini sangat berkaitan erat dengan kesiapan dan kondisi hati seseorang.
KH. Ma’ruf Amin juga menjelaskan beberapa poin penting yang dibahas dalam kajian tersebut meliputi:
Pertama, Sumber Segala Perbuatan: Amal manusia tidak lahir begitu saja secara kebetulan, melainkan bermula dari kondisi dan keadaan hati.
Kedua, Pengaruh Warid Ilahi: Jika hati menerima warid atau dorongan suci dari Allah, seseorang akan secara alami condong kepada amal kebaikan, seperti mendirikan shalat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, berkhidmah kepada sesama, dan menjaga akhlak mulia.
Ketiga, Dampak Dorongan Negatif: Sebaliknya, apabila yang mendominasi hati adalah hawa nafsu atau bisikan buruk, maka yang terpancar ke luar adalah ucapan kasar, perbuatan tercela, serta tindakan yang menyimpang.
Refleksi Hadis Nabi Muhammad SAW
Kajian ini turut memperkuat pemahaman tersebut dengan merujuk pada hadis masyhur Rasulullah SAW yang menegaskan posisi sentral hati manusia:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya :“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
“Hati adalah panglima bagi segala amal. Oleh karena itu, langkah paling utama yang harus diperbaiki dan dijaga oleh setiap Muslim adalah kebersihan hati, sebab dari sanalah arah hidup, ucapan, sikap, dan amal perbuatan bermula.” Pungkasnya. (Humas/Gus).









