spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaTawassul Sebagai Jalan Pintas Menuju Kesuksesan, Ini Pesan Rais Syuriyah MWCNU Jombang

    Tawassul Sebagai Jalan Pintas Menuju Kesuksesan, Ini Pesan Rais Syuriyah MWCNU Jombang

    Jombang, kartanusa – Sebagaimana catatan yang ditulis oleh H. Abd. Basit Misbachul Fitri selaku Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Jombang, tradisi organisasi Nahdlatul Ulama dalam agenda rutin selapanan selalu diisi dengan Mauidloh Hasanah.

    Adapun isi Mauidloh Hasanah yang disampaikan oleh Drs. KH. Moch. Isom Ahmadi selaku Rais Syuriyah MWCNU Jombang pada pertemuan dalam agenda Pengajian Ahad Pahing, Istighotsah dan Arisan Ta’awun Periode VI Putaran ke-19 yang diselenggarakan MWCNU Jombang pada Ahad Pahing, 27 September 2026 M / 16 Rabiul Tsani 1448 H pukul 08.00 – 11.30 WIB bertempat di Masjid Ja’far Shodiq, Dsn. Pulopandean Desa Pulolor Kec. Jombang.

    Masjid tersebut terletak di pinggir sungai Pulopandean yang menghubungkan antara Tunggorono dan Pabrik Gula Jombang. Dalam mauidlohnya, KH. Isom Ahmadi menegaskan bahwa tradisi NU adalah tawassul kepada para Auliya dan Masyayikh.

    “Jika orang tua menginginkan anak yang ahli dalam bidang Fikih dan Al-Qur’an, maka bertawassullah kepada Ibnu Mas’ud dan Abdullah bin Abbas.” Tuturnya.

    Namun sebagai etika dalam bertawassul, kita haturkan terlebih dahulu bacaan Surat Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, sebagaimana dawuh Nabi: “Ana Madinatul Ilmi wa ‘Aliyyun babuha”; Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya.

    Dilanjutkan kepada Masyayikh NU Hadratus Syaikh Mbah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Mbah KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Mbah KH. Bisri Syansuri.

    Lebih lanjut, ia juga menyampaikan ada beberapa Auliya dan Ulama yang berkontribusi dalam Islamisasi di Provinsi Jawa Timur yang berjuang sebelum Mbah Hasyim Asy’ari, sepatutnya kita berziarah dan bertawassul kepada beliau-beliau. Jika dilaksanakan, InsyaAllah selesai dalam satu hari satu malam, diantaranya:

    1. Sayyid Sulaiman di Dusun Mancilan, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung.
    2. Syekh Jumadil Kubro di Troloyo, ulama paling sepuh yang dakwahnya kuat dan hebat. Salah satu kunci dalam berdakwah adalah akhlakul karimah.
    3. Syekh Bungkul, mertua Mbah Sunan Ampel.
    4. Mbah Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel).
    5. Sunan Botoputih, Kiai Salim Nabhan yang berasal dari Hadramaut, salah satu kota pencetak ulama di Negeri Yaman.
    6. Siti Fatimah binti Maimun di Leran, Kecamatan Manyar, Gresik.
    7. Maulana Malik Ibrahim, Walisongo angkatan pertama sebelum generasi kedua yakni Sunan Ampel.
    8. Joko Samudro yang dikenal dengan Sunan Giri di Gresik.
    9. Kanjeng Sepuh di belakang Masjid Besar Kecamatan Sidayu. Beliau sangat berjasa bagi Kabupaten Jombang, beliau yang menandatangani perjanjian pembagian wilayah yang diajukan kepada Kerajaan Mojopahit sehingga Jombang keluar dari pemerintahan Mojokerto, sehingga dapat dinyatakan adanya Kabupaten Jombang. Berkat jasa beliau, beliau mendapatkan penghormatan diangkat sebagai Bupati pertama Kabupaten Jombang
    10. Petilasan Sunan Kalijogo di Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.
    11. Makam Maulana Ishaq di Paciran, Lamongan.
    12. Sunan Drajat.
    13. Syekh Raden Nur Rahmat di Sendang Duwur yang melahirkan tokoh agama di Jombang yakni KH. Abdulloh Mu’thi dan Mbah Yai Nuruddin dari Dapurkejambon.
    14. Syekh Ibrahim Asmoroqondi di Palang, Tuban.
    15. Syekh Maqdum Ibrahim Sunan Bonang di belakang Masjid Agung Kabupaten Tuban, pusat perekonomian besar pada kekuasaan Mojopahit.
    16. Sunan Bejagung, beliau adalah Sayyid Abdullah Asy’ari bin Sayyid Jamaluddin Kubro. Menurut keterangan dari Syekh Abu Al-Fadl (Mbah Ndol), beliau adalah adik Sayyid Maulana Ibrahim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel atau kakek Sunan Bonang). Sayyid Abdullah Asy’ari bermukim di Bejagung Tuban, setelah wafat dimakamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding (2 Km ke arah selatan Kota Tuban) yang sekarang disebut Sunan Bejagung.

    Pengajian Ahad Pahing, Istighotsah dan Arisan Ta’awun tersebut ditutup dengan doa, dilanjutkan Undian Door Prize dan Hadiah Utama Arisan Ta’awun serta makan bersama. Bagi nama yang muncul dalam undian hadiah utama, maka selanjutnya tidak wajib membayar arisan dan dinyatakan selesai. (Humas/Gus).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here