Catatan Demokrasi: Kanigoro sebagai Saksi Kebiadaban PKI pada Kader-Kader PII dan Ulama
Oleh Ustadz Sudino Syueb
(Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Jawa Timur)
Peristiwa Kanigoro merupakan salah satu aksi sepihak bersenjata yang dilancarkan oleh massa Front Rakyat (massa yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia/PKI) pada 13 Januari 1965 di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Peristiwa ini menyasar para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) yang tengah melaksanakan agenda Mental Training (Latihan Dasar Kepemimpinan).
Fajar Mencekam di Kanigoro
Suasana hening menjelang subuh di kompleks Pondok Pesantren Kanigoro pada 13 Januari 1965, sekitar pukul 04.30 WIB, mendadak pecah. Ratusan hingga ribuan massa dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat (PR)—dua organisasi onderbow PKI—datang mengepung lokasi pelatihan dengan membawa senjata tajam seperti celurit, parang, cangkul, dan batu.
Pelatihan kepemimpinan PII yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur dihentikan secara paksa. Massa PKI merangsek masuk ke dalam masjid, tempat para peserta perempuan (pembina dan instrukturwati PII) beristirahat serta bersiap menunaikan salat subuh. Tanpa mengindahkan kesucian tempat ibadah, massa masuk mengenakan alas kaki, memaki-maki, dan melakukan intimidasi.
Teror, Penjarahan, dan Penistaan
Massa bertindak anarkis dengan merusak fasilitas pesantren. Barang-barang milik peserta—mulai dari pakaian, jam tangan, hingga uang tunai—disita dan dijarah. Yang paling menyayat hati kaum muslimin, massa PKI merampas kitab suci Al-Qur’an dan buku-buku agama, lalu menginjak-injaknya di hadapan para peserta.
KH. Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kanigoro sekaligus tokoh ulama setempat, berupaya menenangkan massa dan melindungi para santri. Namun, beliau justru ditodong senjata tajam, diancam, dan dihina. Dua pimpinan latihan PII, Anis Abiyoso dan Suryani, turut ditangkap dan dianiaya oleh massa.
Penggiringan Massal
Sebanyak 127 peserta dan panitia training PII, termasuk KH. Jauhari, dipaksa keluar dari area pesantren. Mereka diarak dengan tangan terikat menuju Mapolsek Kras yang berjarak sekitar 7 kilometer. Sepanjang perjalanan, mereka dihujani caci maki dan yel-yel provokatif.
Sesampainya di Polsek Kras, pihak PKI mendesak kepolisian untuk menahan para aktivis PII atas tuduhan palsu bahwa PII sedang menyelenggarakan latihan militer ilegal untuk memberontak kepada pemerintah. Melihat situasi yang tidak berimbang, pihak kepolisian mengamankan para korban guna menghindar dari amukan massa yang kian anarkis.
Solidaritas dan Perlawanan Balik
Kabar penyerangan di Kanigoro berembus cepat ke Kota Kediri dan sekitarnya. Mendengar ulama dan saudara seiman diperlakukan secara keji, ribuan kader Pemuda Ansor (NU), Banser, serta elemen umat Islam lainnya segera berkonsolidasi.
Hanya dalam hitungan jam, ribuan pemuda muslim ganti mengepung basis-basis massa PKI di Kediri dan menuntut pembebasan tanpa syarat bagi para aktivis PII. Ketegangan hebat sempat melanda wilayah Kediri hingga akhirnya aparat keamanan turun tangan meredam potensi bentrokan massal yang lebih besar. Seluruh tawanan PII pun berhasil dibebaskan.
Peristiwa Kanigoro dicatat dalam lembaran sejarah Indonesia sebagai salah satu bukti pemicu eskalasi ketegangan politik nasional sebelum meletusnya peristiwa G30S/PKI pada akhir tahun 1965.
Tokoh-Tokoh Kunci
Pertama, Sisi Korban (Umat Islam & PII).
- KH. Jauhari: Pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar Kanigoro. Ulama sepuh yang diancam, ditodong senjata tajam, dan diarak paksa oleh massa PKI menuju kantor polisi.
- KH. Mahrus Aly: Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (saudara ipar KH. Jauhari). Beliau memberikan dukungan moral dan mengonsolidasikan santri-santri Lirboyo untuk bersiaga pasca-penyerangan.
- Gus Maksum (KH. Maksum Jauhari): Putra KH. Jauhari. Mendengar ayah dan pesantrennya diserang, Gus Maksum (yang kelak dikenal sebagai pendekar legendaris NU dan pendiri Pagar Nusa) langsung menghimpun kekuatan Pemuda Ansor dan Banser untuk melakukan pengepungan balik ke basis PKI.
- Anis Abiyoso & Masdoeqi Moeslim: Pimpinan dan panitia pelaksana Mental Training PII Jawa Timur yang menjadi korban penganiayaan fisik serta intimidasi langsung dari penyerbu.
Kedua, Sisi Penyerang (PKI & Onderbow): Suryadi & Harmono, tokoh pimpinan Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) wilayah Kanigoro. Mereka menggerakkan massa untuk mengepung masjid, menjarah, dan menistakan kitab suci.
Ketiga, Tokoh Pemantik Lain: Samelan, tokoh mantan Partai Masyumi. Rencana kehadiran Samelan sebagai pembicara dalam training PII dijadikan dalih politik oleh PKI untuk membubarkan acara tersebut, mengingat Masyumi saat itu telah dilarang oleh pemerintah Orde Lama.
Dampak Sosial-Politik Peristiwa Kanigoro
Peristiwa Kanigoro bukan sekadar bentrokan lokal biasa, melainkan memiliki dampak masif terhadap peta konflik nasional menjelang akhir tahun 1965:
Pertama, Dampak Sosial: Terbelahnya Masyarakat dan Kebencian Ideologis.
- Eskalasi Agama vs. Komunisme: Tindakan penistaan terhadap Al-Qur’an dan penyerangan masjid mengubah persepsi konflik yang semula dipicu sengketa lahan (aksi sepihak BTI) menjadi bentrokan ideologis yang sangat sensitif (Agama vs. Ateisme).
- Konsolidasi Total Kekuatan Islam: Tragedi ini memicu solidaritas luar biasa antara PII, HMI, Pemuda Ansor, Banser, dan pesantren-pesantren besar di Jawa Timur untuk membentengi diri dari pergerakan PKI.
Kedua, Dampak Politik: Meningkatnya Legitimasi PII dan Polarisasi.
- Meningkatnya Militansi PII: Peristiwa Kanigoro kian menguatkan legitimasi PII di tingkat nasional sebagai organisasi pelajar yang berani menghadapi tekanan komunis. Pasca-1965, PII memegang peran strategis dalam gerakan pemuda nasional.
- Titik Balik di Kediri: Kediri yang semula menjadi salah satu basis utama PKI di Jawa Timur berubah drastis setelah meletusnya G30S/PKI. Trauma atas penyerangan Kanigoro memicu aksi balasan yang masif dari kaum santri dan pemuda Islam untuk membersihkan simpatisan PKI di wilayah tersebut.
- Katalisator Kejatuhan Orde Lama: Peristiwa ini menjadi test case (uji coba lapangan) ketegangan horizontal yang meyakinkan militer (TNI AD) bahwa gesekan di masyarakat sudah berada di titik kritis, sehingga mempercepat keretakan politik Nasakom yang diusung Presiden Soekarno.









