spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaMenolak Lupa Sejarah, Kesaksian Korban dan Catatan Tragedi Kekejaman PKI Kembali Disuarakan

    Menolak Lupa Sejarah, Kesaksian Korban dan Catatan Tragedi Kekejaman PKI Kembali Disuarakan

    Jakarta, kartanusa — Sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia terkait aksi dan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terus menjadi perhatian publik. Di tengah dinamika sosial dan ekonomi masyarakat saat ini, kesaksian para saksi sejarah serta catatan kronologi peristiwa kekejaman masa lalu dinilai penting untuk terus digali sebagai sarana edukasi dan kewaspadaan nasional.

    Dalam sebuah forum simposium di Jakarta, Siti Asyiah (85), seorang saksi hidup asal Kabupaten Magetan, membagikan kisah pilu yang menimpa keluarganya saat pemberontakan PKI meletus di Madiun dan sekitarnya pada September 1948. Siti yang kala itu berusia 18 tahun menyaksikan langsung bagaimana rumah keluarganya dijarah dan dibakar.

    Ayahnya, Haji Dimyati—seorang tokoh aktivis Masyumi dan penghulu desa—menjadi salah satu target pembantaian. Setelah sempat mengungsi, Haji Dimyati tertipu oleh imbauan keamanan palsu hingga akhirnya ditangkap dan dieksekusi secara keji bersama warga lain di sebuah lubang pembantaian di Desa Kerambe.

    “Fungsi mengingat sejarah ini adalah agar kita tidak melupakan peristiwa tragis yang pernah menimpa para ulama, tokoh masyarakat, serta aparat negara.” Ujar narasi yang menyertai catatan kesaksian tersebut.

    Catatan Rekam Jejak Sejarah (1945–1965)

    Selain kesaksian individu, deretan catatan sejarah mencatat serangkaian aksi kekerasan dan dinamika politik yang melibatkan PKI sejak awal kemerdekaan:

    • Periode 1945–1948: Terjadi berbagai peristiwa konflik lokal dan penculikan tokoh, seperti pembunuhan Bupati Lebak R. Hardiwinangun (1945), peristiwa di Banten dan Pekalongan, hingga puncaknya Deklarasi Republik Soviet Indonesia di Madiun pada September 1948 yang memakan korban dari kalangan pejabat, TNI, polisi, serta para kyai dan santri.
    • Dinamika Politik 1950-an: Pasca-pemberontakan Madiun, PKI kembali berkembang hingga menjadi salah satu pemenang Pemilu 1955. Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang pada 1957 yang mengeluarkan fatwa haram terhadap ideologi komunis.
    • Peristiwa 1965: Ketegangan politik memuncak pada pertengahan 1960-an melalui berbagai aksi penyergapan dan konflik horizontal di daerah, hingga meletusnya peristiwa G30S/PKI pada 30 September 1965 yang menewaskan para perwira tinggi TNI AD.

    Rangkaian peristiwa tersebut menjadi dasar diterbitkannya TAP MPRS No. XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI serta Pelarangan Penyebaran Paham Komunisme, Marxisme, dan Leninisme di Indonesia.

    Penyebarluasan kisah nyata dan catatan kronologi sejarah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif bagi generasi muda agar senantiasa menjaga persatuan bangsa dan tidak melupakan catatan perjalanan sejarah Indonesia. (Humas/Gus).

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here