spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaCatatan Pendidikan: Antara Angka, Gawai, dan Hilangnya Jiwa Penuntun

    Catatan Pendidikan: Antara Angka, Gawai, dan Hilangnya Jiwa Penuntun

    Catatan Pendidikan: Antara Angka, Gawai, dan Hilangnya Jiwa Penuntun

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya, Mahasiswa MPI Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya)

    Dunia pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang penuh paradoks. Di satu sisi, negara dihadapkan pada dilema kebijakan: apakah wacana tidak menaikkan siswa adalah solusi universal yang mendidik, atau sekadar solusi parsial yang menutupi luka menganga dari rendahnya minat belajar, khususnya literasi, numerasi dan karakter?

    Kebijakan menahan atau meluluskan siswa sering kali terjebak dalam perdebatan administratif. Padahal, akar masalahnya jauh lebih dalam: anak-anak kita sedang kehilangan gairah untuk membaca makna, memahami logika dasar (numerasi), dan mencerna esensi dari ilmu pengetahuan.

    Ilusi Teknologi: Antara Gawai Canggih dan Kemunduran Eksplorasi

    Kita hidup di era di mana gawai berada di dalam genggaman setiap anak. Sayangnya, teknologi yang maha luas ini kerap hanya termanfaatkan dari sisi gimiknya saja. Ada dua catatan kritis yang mestinya menjadi perhatian semua elemen bangsa, yakni:

    Pertama, Media sosial berhenti pada ruang pamer eksistensi dan validasi instan, alih-alih menjadi jendela eksplorasi ilmu pengetahuan.

    Kedua, Gim (game) yang seharusnya menjadi sarana rekreasi penyejuk pikiran, justru berubah menjadi candu yang menguras energi mental dan fokus belajar.

    “Anak-anak kita akrab dengan layar, tetapi asing dengan kedalaman berpikir. Mereka menjadi penikmat pasif dari algoritma, bukan pencipta atau pembelajar yang aktif”

    Krisis Akhlak: Runtuhnya Tawaduk di Hadapan Guru dan Orang Tua

    Tantangan terbesar hari ini bukan sekadar rendahnya skor PISA atau rapor merah literasi-numerasi, melainkan krisis akhlak dan adab.

    Ketaatan dan katawadukkan (kerendahan hati) siswa terhadap orang tua dan guru adalah cerminan dari ekosistem digital yang tidak disaring. Tontonan media sosial kerap menormalisasi sikap membangkang, merendahkan otoritas, dan mengagungkan kebebasan tanpa batas.

    Padahal, dalam tradisi pendidikan bangsa kita, ilmu tidak akan pernah bersinar tanpa adab. Kehilangan rasa hormat kepada guru dan orang tua membuat ilmu yang ditransfer sekadar menjadi informasi di kepala, tanpa pernah meresap menjadi kebijaksanaan di dalam hati. Nilai angka di rapor menjadi hampa ketika integritas dan rasa hormat runtuh.

    Menuju Solusi Universal: Membenahi Ekosistem, Bukan Sekadar Kebijakan Kelas

    Menghadapi kompleksitas ini, solusi parsial seperti perdebatan “naik atau tidak naik kelas” tidak akan menyelesaikan masalah secara akar. Kita membutuhkan gerakan universal yang melibatkan seluruh ekosistem:

    Pertama, Mengembalikan Esensi Literasi-Numerasi: Membaca bukan sekadar mengeja teks, dan numerasi bukan sekadar menghitung angka, melainkan cara anak berpikir kritis memecahkan masalah kehidupan nyata.

    Kedua, Transformasi Penggunaan Teknologi: Mengarahkan anak beralih dari konsumen digital menjadi produsen dan penjelajah digital.

    “Gawai harus dikontrol penggunaannya agar kembali berfungsi sebagai alat bantu belajar yang mencerahkan”

    Ketiga, Reorientasi Pendidikan Karakter: Menempatkan adab, rasa hormat, dan ketawadukan di atas pencapaian kognitif semata.

    “Guru dan orang tua harus kembali bersinergi menjadi teladan, bukan sekadar pengawas”

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan kita dalam Al-Qur’an, yakni:

    وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا

    Artinya :“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9).

    “Pendidikan yang sejati bukan tentang bagaimana kita meloloskan siswa dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dengan angka-angka artifisial. Pendidikan adalah proses menghidupkan akal budi, membentuk hati yang tawaduk dengan penuh keteladanan”

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here