Jakarta, kartanusa — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) dewasa ini tidak hanya membawa perubahan dalam lanskap digital, tetapi juga memicu refleksi mendalam mengenai hakikat penciptaan manusia dan peradaban.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Bela Negara (DPW GBN) Jawa Timur, Ir. H. Chairul Djaelani, MMT., saat menghadiri Dialog Kebangsaan bertajuk; “Persatuan Umat untuk Kemajuan Ekonomi Bangsa”, dalam rangkaian Kongres Nasional Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 yang berlangsung di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur. Dilansir dari laman resmi media sosial pribadi miliknya pada Ahad (18/10/2026).
Menurutnya, forum ini merupakan sebuah diskusi pemikiran yang mengangkat dimensi ketuhanan, ilmu pengetahuan, hingga trilogi pergerakan nasional, ditekankan bahwa AI dan teknologi modern pada hakikatnya hanyalah sebuah instrumen (tools) untuk mempermudah tugas kekhalifahan manusia di bumi.
Hakikat Penciptaan dan Misi Kekhalifahan Manusia
Chairul Djaelani juga menegaskan bahwa diskusi tersebut membedah perbedaan mendasar antara makhluk ciptaan Allah. Jin diciptakan dalam satu dimensi (dimensi ruh saja), sementara manusia diciptakan dalam dua dimensi, yakni dimensi ruh dan jasad material dunia, dengan tujuan utama beribadah dan mengabdi kepada Sang Pencipta.
“Ibadah dipahami secara komprehensif, bukan sekadar ritual vertikal, melainkan upaya meraih keridhaan Allah SWT (mardhotillah) dalam seluruh aspek kehidupan, baik secara personal, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara (mencakup bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan).” Ujar Chairul Djaelani, yang juga menjabat Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (PW IPHI) Jawa Timur Periode 2014-2019.
Ia lantas mengatakan bahwa misi utama manusia di bumi adalah melanjutkan risalah para nabi dan rasul, yaitu mewujudkan rahmat dan kenyamanan yang berkelanjutan dengan bertindak sebagai pengelola atau pengurus bumi yang amanah (li illah, lil mardhotilah).
Sinergi IMTAQ, IPTEK, dan Teknologi AI
Dalam menjalankan tugas pokoknya, lanjut Chairul, bahwa manusia didorong untuk menyeimbangkan dua pilar utama:
Pertama, IMTAQ (Iman dan Takwa): Menjalani kehidupan dengan senantiasa mematuhi petunjuk dan nilai-nilai Ilahiah (agama).
Kedua, IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi): Menguasai ilmu pengelolaan fisik dunia untuk kemaslahatan bersama.
“Di sinilah posisi teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI) menemukan tempatnya yang proporsional. AI diposisikan sebagai alat bantu atau teknologi penunjang yang mempermudah manusia dalam mengelola urusan dunia secara efektif dan efisien, selama tetap dikendalikan oleh nilai moral dan spiritual yang kokoh.” Katanya.
Relevansi Trilogi Syarikat Islam (H.O.S. Tjokroaminoto)
Pandangan tersebut, tambah Chairul Djaelani, sejalan dengan nilai-nilai luhur dari Trilogi Syarikat Islam yang digagas oleh Pahlawan Nasional H.O.S. (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto, yang tetap sangat relevan diterapkan di era modern:
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” (atau sering juga diungkapkan sebagai sebersih-bersih tauhid, setinggi-tinggi ilmu, sepandai-pandai siasah).” Ungkapnya.
Menurutnya, makna dari ketiga pilar tersebut mencakup:
Pertama, Setinggi-tinggi ilmu: Menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan akal pikiran yang cerdas bagi seorang pejuang agar tidak mudah dibodohi oleh penjajah.
Kedua, Semurni-murni tauhid: Menjaga ketauhidan, keimanan, dan nilai-nilai spiritual yang bersih sebagai landasan moral yang kuat dalam setiap langkah perjuangan.
Ketiga, Sepintar-pintar siasat (siasah): Menguasai strategi politik, diplomasi, dan taktik perjuangan yang cerdas dalam menghadapi musuh atau situasi yang sulit.
“Trilogi ini menggambarkan tiga kemampuan esensial yang harus dimiliki oleh seorang pejuang kemerdekaan dan pemimpin bangsa pada masa itu, sebagaimana yang kemudian tercermin dalam diri murid-murid didikan beliau yang kelak menjadi tokoh-tokoh penting pergerakan nasional Indonesia.” Tegasnya.
“Melalui perpaduan antara prinsip tauhid yang murni, penguasaan IPTEK berbasis AI, serta strategi tata kelola yang kuat, manusia diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai pengelola bumi yang membawa rahmat bagi semesta alam.” Pungkasnya. (Humas/Gus).









