Surabaya, kartanusa – Dinamika pertahanan dan keamanan global serta nasional kembali menjadi sorotan dalam diskursus strategis. Diskusi ini mencakup berbagai spektrum ancaman, mulai dari pola perang gerilya modern, isu ketahanan logistik seperti ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga adanya ancaman eksistensial dari penggunaan senjata pemusnah massal berupa nuklir yang menuntut perhatian serius masyarakat internasional.
Catatan kritis ini disampaikan oleh Ir. H. Chairul Djaelani, MMT., dan Tis Ainin S., Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Bela Negara (DPW GBN) Jawa Timur pada Senin (19/10/2026)
Evolusi Strategi: Perang Gerilya Modern dan Ketahanan Logistik
Dalam paparannya, Tis Ainin S., DPW GBN Jatim menyampaikan bahwa dalam tinjauan teori militer, pola perang gerilya, termasuk konsep Gerilya Lawan Gerilya (GLG) yang didukung operasi intelijen sandiyuda, dikenal sebagai strategi perang berlarut dalam jangka panjang.
“Strategi ini sering kali memanfaatkan sistem sel kecil yang fleksibel, tidak saling mengikat secara ketat, namun efektif dan mematikan.” Tuturnya.
Menurutnya, di era modern, ancaman tidak hanya berwujud konfrontasi fisik bersenjata, melainkan juga bentuk-bentuk gangguan non-konvensional yang berdampak langsung pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat.
“Isu-isu terkait kelangkaan atau disrupsi distribusi energi seperti BBM (Pertalite) di berbagai daerah (seperti Bali, Sulawesi, Sumatra, hingga beberapa wilayah di Jawa Timur) kerap memicu kepanikan publik.” Ungkapnya.
Hal ini, tambahnya, menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan militer di medan laga, tetapi juga pada ketahanan logistik dan sistem peringatan dini terhadap isu-isu destabilisasi di tengah masyarakat.
Pergeseran Paradigma: Dari Perang Konvensional Menuju Ancaman Nuklir
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW GBN Jatim, Ir. H. Chairul Djaelani, MMT., menyampaikan bahwa jika strategi gerilya masih relevan dalam konteks konflik konvensional atau asimetris, kehadiran modernitas militer dan senjata mutakhir telah mengubah lanskap ancaman secara drastis.
Menurutnya, keberadaan senjata nuklir menjadikan perang modern bukan lagi sekadar perebutan wilayah, melainkan potensi pemusnahan total (total annihilation) yang dampaknya jauh melampaui kedahsyatan bom atom di masa lalu.
“Mengingat risiko kemanusiaan dan ekologis yang ditimbulkannya, muncul desakan moral dan strategis agar bangsa-bangsa di dunia secara konsisten memperjuangkan kesepakatan global untuk menghapus kepemilikan dan penyebaran senjata nuklir.” Ungkap Chairul Djaelani.
Urgensi Pengalihan Teknologi Nuklir untuk Tujuan Damai
Chairul juga menegaskan bahwa alih-alih digunakan sebagai instrumen kehancuran, teknologi nuklir harus diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan peradaban yang damai dan berkelanjutan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi nuklir yang aman dapat dioptimalkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan, seperti:
Pertama, Pengembangan riset dan budidaya di sektor pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan.
Kedua, Peningkatan kualitas peternakan dan kesehatan.
Ketiga, Berbagai inovasi sains tingkat lanjut guna menunjang kebutuhan hidup umat manusia secara berkelanjutan.
Menghadapi kompleksitas zaman—mulai dari potensi konflik taktis di tingkat lokal hingga ancaman strategis global—diperlukan kewaspadaan nasional yang tinggi serta kepemimpinan global yang berorientasi pada perdamaian.
Indonesia dan dunia internasional perlu memperkuat ketahanan dalam negeri sekaligus terus mendorong diplomasi perdamaian dunia demi menjamin kelangsungan hidup umat manusia yang aman dan berkelanjutan. (Humas/Gus).









