Surabaya, kartanusa — Pasar modern sering kali diasumsikan bekerja dengan hukum-hukum matematis yang kaku bagaikan ilmu fisika. Namun, pandangan tersebut dinilai keliru karena dinamika ekonomi dan pasar sarat dengan faktor psikologis, perilaku, hingga elemen-elemen “tak kasat mata” yang destruktif. Refleksi mendalam ini mengemuka dalam catatan pemikiran dari Rosyid College of Arts, Prof. Daniel Mohammad Rosyid pada Selasa (27/10/2026).
Dalam pandangannya, Prof. Daniel Mohammad Rosyid, yang juga pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Bela Negara (DPW GBN) Jawa Timur diingatkan bahwa ekonomi dan segala pasarnya bukanlah ilmu fisika murni.
“Di dalamnya penuh dengan ‘sentimen’ yang dianalogikan secara metaforis bagaikan jin, thuyul, banaspati, gendruwo, dan kuntilanak, simbol dari kerakusan, manipulasi terselubung, spekulasi tidak sehat, dan mentalitas merugikan orang lain.” Tutur Prof. Daniel, panggilan akrabnya.
Pasar sebagai Medan Dakwah dan Peringatan Nabi
Merujuk pada peringatan Rasulullah SAW, Prof. Daniel menegaskan bahwa pasar dapat menjadi salah satu tempat terburuk jika kehilangan etika moral dan spiritual. Dalam praktiknya, uang dan instrumen investasi kerap disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu, yang diibaratkan sebagai “para thuyul dkk”, untuk mencuri melalui praktik riba guna menjajah serta memperbudak sesama.
“Oleh karena itu, gerakan moral disuarakan agar pasar-pasar konvensional maupun modern harus dibebaskan dari cengkeraman riba.” Tegas Prof. Daniel.
Menurutnya, tata kelola ekonomi juga perlu diperbaiki secara serius agar bersih dari praktik-praktik manipulatif seperti gendham, glembuk (tipu muslihat), hingga tindakan merugikan lainnya.
“Langkah pembersihan pasar ini menjadi prasyarat penting untuk mewujudkan sistem ekonomi yang berkeadilan, transparan, serta berpihak pada kesejahteraan umat dan kemanusiaan.” Pungkasnya. (Humas/Gus).









