Cappadocia, Turki, kartanusa– Terus berkemajuan dan mencerahkan, Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK MUDISA), Ustadz Irvandy Andriansyah, S.T., M.T., bersama rombongan Muhammadiyah Kota Surabaya, mengisi kunjungan internasionalnya di Turki dengan menunaikan ibadah Salat Jumat di Harem Mosque, Cappadocia, pada Jumat (06/11/2026).
Momen spiritual ini memberikan kesan mendalam bagi Ustadz Irvandy. Di tengah perbedaan bahasa dan budaya ribuan kilometer dari Indonesia, kumandang azan dan saf salat berjamaah menjadi pengingat bahwa umat Islam dipersatukan dalam satu ikatan iman yang kuat.
Pesan Khutbah: Hidup adalah Ladang Ibadah
Khutbah Jumat yang disampaikan oleh khatib Cemil Usta mengangkat tema tentang hakikat ibadah dan ketakwaan. Khatib mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual keagamaan tertentu, melainkan mencakup seluruh aktivitas kehidupan yang diniatkan untuk mencari rida Allah SWT.
Dalam pesannya, Cemil Usta mengutip Surah An-Nahl ayat 97 mengenai janji Allah tentang kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibatan) bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengerjakan kebajikan dalam keadaan beriman. Selain itu, khatib juga menekankan pentingnya konsistensi dalam beramal saleh, merujuk pada sabda Rasulullah SAW tentang amalan yang paling dicintai Allah yaitu amalan yang istiqamah meskipun sedikit.
Refleksi untuk Dunia Pendidikan
Bagi Ustadz Irvandy Andriansyah, pesan khutbah tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan kejuruan. Ia menegaskan bahwa institusi pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian akademik dan keterampilan teknis semata.
“Pendidikan tidak cukup hanya mencetak anak-anak yang pintar, memiliki keterampilan, dan siap bekerja. Kita harus membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, jujur, amanah, peduli kepada sesama, serta memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan masa depannya.” Ujar Ustadz Irvandy.
Nilai-nilai ini, lanjutnya, sejalan dengan visi SMK MUDISA dalam melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, berakhlakul karimah, terampil, mandiri, dan berdaya saing global tanpa melupakan tujuan akhir kehidupan.
Kunjungan ke Cappadocia tidak hanya menyuguhkan keindahan alam dan situs bersejarah, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri. Perjalanan hidup manusia bukan sekadar tentang seberapa jauh melangkah atau seberapa banyak pengalaman duniawi yang dikumpulkan, melainkan tentang seberapa kuat iman dijaga dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama manusia.
Dari Surabaya menuju Turki, perjalanan ini menegaskan bahwa sejauh apa pun langkah kaki manusia, hati harus senantiasa terpaut kepada Allah SWT. (Irv).









