spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaInspirasi Kehidupan : NU dalam Pandangan Salafi- Wahabi

    Inspirasi Kehidupan : NU dalam Pandangan Salafi- Wahabi

    Inspirasi Kehidupan : NU dalam Pandangan Salafi- Wahabi

    Oleh KH. Nurbani Yusuf 

    (Komunitas Padhang Makhsyar)

    Dalam pandangan Salafi Wahabi :
    NU itu Ahli Bi’ah, Ahli Tahayul, Ahli Khurafat dan Ahli Syirik. Sebab itu Aqidah-nya perlu diluruskan. Ibadahnya perlu di murnikan. NU itu sesat dan banyak menyimpang.

    Bukan hanya Syiah yang disesatkan siapapun yang tidak sepandangan dicap ahli bid’ah. Salafi-Wahabi mengambil posisi sebagai Polisi Sunah. Siapapun yang tidak sepandangan dicap sesat masuk neraka. Dengan begitu kita tahu posisi Salafi Wahabi dalam pola komunikasi dan dakwah Islam seperti apa?

    Salafi-Wahabi umumnya memandang NU sebagai kelompok yang mencampuradukkan ajaran Islam dengan tradisi lokal: tahayul, bid’ah, khurafat, dan syirik. Amalan NU tak ada yang selamat. Bahkan Shalat yang dikerjakan NU mengandung 140 kesalahan karena tidak sesuai dengan kitab Shifat Shalat Nabi.

    Amalan NU seperti tahlilan, manaqiban, berzanjen, tawashul, maulid nabi, dan ziarah kubur dianggap tidak sesuai dengan tauhid yang murni yang dianut Wahabi. NU dianggap hanya Ahlujamaah tetapi bukan Ahlu Sunnah.

    Sebagian besar amalan NU disasar bid’ah, sesat dan masuk neraka : berjanzen, diba’ ziarah kubur, tawashul adalah sasaran empuk yang harus dihilangkan, pendek kata NU dianggap produsen tahayul, bid’ ah dan khurafat.

    Dalam bidang Aqidah, NU juga dianggap sesat karena bermadzab As’ Ariyah dan Maturidiyah — sifat 50 (sifat wajib, jais dan mustahil) bagi Allah jelas syirik yang nyata karena dianggap tidak sinkron dengan aqidah salafus-saleh. Padahal Imam Asy ‘ari yang ditahzdzir adalah ulama salaf sementara Syaikh Ibnu Taymiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab penggagas trilogi Wahabi : Rubbubiyah, Uluhiyah dan Ubudiyah adalah ulama khalaf.

    Dalam pandangan salafi-wahabi, tarekat mengalami nasib kurang lebih sama — para mursyid dan guru sufi dihabisi seperti tidak ada benarnya sama sekali: Imam al Ghazali berikut kitabnya dijauhi tak boleh dipelajari. Umat Islam harus dijauhkan dari tarekat karena dianggap sumber segala kesesatan dan penyimpangan.

    Salafi- Wahabi juga anti adat dan tradisi— wayang kulit dan gamelan jelas bid’ah mengandung unsur syirik, mistis dan sinkretis jauh dari tauhid yang murni. Salafi-Wahabi mengharamkan maulid nabi, haul, nuzulul qur’an, isra mi’radz atau lainnya. Bahkan mudik hari raya dianggap bid’ah. Piara burung juga bid’ah katanya lucu.

    Menganut kebenaran tunggal itu pangkal soalnya : intoleran tidak menerima perbedaan dan keragaman. Islam-ku vs Islam-mu bukan Islam kita

    Dakwah salafi wahabi adalah dakwah dengan sesama muslim. Head to head mengambil posisi saling berhadapan bukan berdampingan. Jadinya keras dengan sesama mukmin tapi lembut dengan orang kafir.

    “Seperti pungguk rindukan bulan: Salafi -Wahabi tak mungkin akur dengan NU, Muhammadiyah apalagi Syiah tambah tak mungkin”

    Kenapa tidak hidup berdampingan saling menghargai dan menghormati, bukankah setiap aliran memiliki manhaj yang berbeda. Orang beriman itu bersaudara, jika berselisih maka damaikanlah.

    Terpenting adalah saling menghormati bahwa perbedaan itu niscaya, perbedaan itu sesuatu yang lumrah dan bahwa:

    • Bertauhid yang sama: Allah Yang Ahad.
    • Nabi yang sama: Muhammad SAW.
    • Kitab nya juga sama: Al-Qur’an.
    • Beriman pada hari kiamat yang sama.

    “InsyaAllah mencukupi disebut mukmin, betapapun itu”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here