spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaCapacity Building Sekolah Karakter SDM 24 Surabaya : Teamwork Makes the Dream...

    Capacity Building Sekolah Karakter SDM 24 Surabaya : Teamwork Makes the Dream Work

    Malang, kartanusa – Dalam rangka membentuk Teamwork Makes the Dream Work, keluarga besar Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya gelar kegiatan Capacity Building Guru dan Karyawan Sekolah Karakter di Hotel Agrowisata Malang. Sabtu–Ahad (2–3/05/2026).

    Bukan sekadar kegiatan rutin, bukan pula hanya pertemuan tahunan, tetapi sebuah momentum untuk menyalakan kembali energi perjuangan, menguatkan barisan, dan menyatukan langkah menuju cita-cita besar: Mewujudkan Sekolah Unggul.

    Dengan mengambil tema; “Teamwork Makes the Dream Work: Kuatkan Sinergi, Wujudkan Sekolah Unggul”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bahwa sekolah hebat tidak lahir dari kerja satu orang. Sekolah unggul tidak dibangun oleh satu jabatan, satu bagian, atau satu kelompok saja. Sekolah unggul lahir dari hati yang saling terhubung, pikiran yang searah, langkah yang kompak, dan kerja yang penuh amanah.

    Hadir menjadi pemateri Ustadz Nasrullah S.Sos., M.Si., yang juga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengajak peserta melihat kembali makna sebuah tim.

    Ada pesan kuat yang terpampang: “Mari kita bentuk tim!” Sebuah ajakan sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Sebab dalam dunia pendidikan, tidak ada kemenangan yang benar-benar individual.

    “Guru tidak bisa berjalan sendiri, karyawan tidak bisa bergerak sendiri. Pimpinan tidak bisa mengangkat sekolah sendirian. Semua harus hadir sebagai bagian dari tubuh besar bernama sekolah.” Ujarnya.

    Selanjutnya, ia menggambarkan bahwa setiap orang dalam tim memiliki karakter dan kekuatan masing-masing. Ada yang kuat seperti Red Lion, ada yang tangguh seperti Green Wolf, ada pula yang tenang namun memiliki daya seperti White Horse.

    “Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Perbedaan justru menjadi kekayaan yang harus dirangkai menjadi kekuatan bersama.” Tandasnya.

    Karena dalam tim yang hebat, lanjut Ustadz Nasrullah, kita tidak sibuk bertanya, “Siapa yang paling penting?” Tetapi kita bertanya, “Apa kontribusi terbaik yang bisa saya berikan?”

    Dalam perjalanan membangun sekolah unggul, tentu ada tantangan yang sering muncul. Ustadz Nasrullah juga mengingatkan tentang beberapa problem umum yang bisa menghambat sinergi; Ego sektoral, Senioritas yang mengalahkan profesionalisme, Komunikasi yang terlalu pasif atau terlalu agresif, serta Kurangnya apresiasi.

    “Semua itu adalah alarm penting bagi setiap insan sekolah.” Katanya.

    Pertama, Ego Sektoral; Ego sektoral membuat kita merasa bagian kita paling berat, paling benar, dan paling menentukan. Padahal sekolah adalah satu sistem, jika satu bagian lemah, bagian lain ikut terdampak.

    “Jika satu bagian kuat, kekuatan itu harus menguatkan yang lain.” Tegasnya.

    Kedua, Senioritas; Senioritas yang tidak diiringi keteladanan bisa menjadi tembok. Sebaliknya, profesionalisme yang tumbuh dalam adab akan menjadi jembatan. Yang senior memberi arah dan hikmah. Yang muda membawa energi dan gagasan baru.

    “Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling melengkapi.” Jelasnya.

    Ketiga, Komunikasi; Komunikasi juga menjadi kunci. Terlalu pasif membuat masalah menumpuk dalam diam. Terlalu agresif membuat hubungan menjadi tegang.

    “Maka yang dibutuhkan adalah komunikasi yang matang: jujur, santun, jelas, dan solutif.” Katanya.

    “Dan yang tidak kalah penting adalah apresiasi. Kadang seseorang tidak butuh hadiah besar. Ia hanya butuh didengar, dihargai, dan diakui perjuangannya. Sebab di balik sekolah yang berjalan rapi, ada banyak tangan yang bekerja dalam senyap.” Tandasnya.

    Ustadz Nasrullah juga menambahkan bahwa ada guru yang menyiapkan pelajaran dengan cinta. Ada karyawan yang menjaga layanan dengan sabar. Ada pimpinan yang memikirkan arah sekolah dengan penuh tanggung jawab.

    “Ada banyak orang yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi sangat berarti.” Katanya.

    Ia kemudian menjelaskan tentang Sekolah Unggul bukan hanya sekolah dengan prestasi akademik tinggi. Sekolah unggul bukan hanya sekolah yang menang lomba, memiliki fasilitas baik, atau dikenal masyarakat luas.

    Lebih dari itu, Sekolah Unggul adalah sekolah yang memiliki budaya kolaboratif, memberikan pelayanan prima kepada siswa dan orang tua, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, serta menghadirkan kepemimpinan yang inklusif.

    Ia juga menegaskan bahwa Sekolah unggul adalah tempat di mana setiap anak merasa dihargai. Setiap guru merasa didukung. Setiap karyawan merasa memiliki peran. Setiap orang tua merasa dilayani.

    “Dan setiap pemimpin hadir bukan hanya untuk memerintah, tetapi untuk menggerakkan, merangkul, dan menumbuhkan.” Tegasnya.

    Menurutnya, inilah ruh besar dari teamwork. Bahwa mimpi besar sekolah tidak akan menjadi kenyataan bila hanya disimpan di kepala pimpinan.

    “Mimpi besar harus turun menjadi gerakan bersama. Menjadi budaya kerja. Menjadi cara berkomunikasi. Menjadi semangat saling menolong. Menjadi komitmen untuk tidak saling menjatuhkan, tetapi saling menguatkan.” Ungkapnya.

    Ia juga mengingatkan kepada Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya sebagai sekolah karakter memiliki amanah besar. Bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk akhlak. Bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. Bukan hanya mendidik siswa agar pintar, tetapi agar tumbuh menjadi manusia yang beriman, beradab, tangguh, peduli, dan bermanfaat.

    “Maka guru dan karyawan bukan sekadar pekerja pendidikan. Mereka adalah penjaga peradaban. Mereka adalah penyala cahaya. Mereka adalah orang-orang yang setiap harinya berhadapan dengan masa depan bangsa dalam wujud anak-anak yang polos, penuh harapan, dan membutuhkan keteladanan.” Ungkapnya.

    Karena itu, lanjutnya Ustadz Nasrullah, Capacity Building ini menjadi panggilan jiwa: mari kembali menyatukan niat. Mari bekerja bukan sekadar menggugurkan tugas, tetapi menunaikan amanah. Mari hadir bukan sekadar datang ke sekolah, tetapi membawa energi kebaikan. Mari melayani bukan hanya karena prosedur, tetapi karena cinta.

    “Sekolah unggul tidak dibangun dengan keluhan, tetapi dengan kontribusi.” Tandasnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa Sekolah Unggul;

    • Tidak tumbuh dengan saling menyalahkan, tetapi dengan saling menguatkan.
    • Tidak maju dengan ego pribadi, tetapi dengan sinergi.
    • Tidak besar karena satu orang hebat, tetapi karena semua orang mau bergerak bersama.

    Menurutnya, dari Hotel Agrowisata Malang, semangat itu dinyalakan kembali. Bahwa keluarga besar Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Surabaya siap melangkah lebih solid, lebih kompak, lebih profesional, dan lebih berkarakter.

    • Karena ketika hati sudah bersatu, kerja menjadi ringan.
    • Ketika komunikasi dibangun dengan jernih, masalah menjadi peluang belajar.
    • Ketika apresiasi menjadi budaya, setiap orang merasa berarti.
    • Ketika kepemimpinan merangkul semua, sekolah menjadi rumah besar yang menumbuhkan.

    “Dan pada akhirnya, mimpi besar itu bukan lagi sekadar slogan. Teamwork Makes The Dream Work.” Imbuhnya.

    “Dengan sinergi yang kuat, pelayanan yang tulus, budaya kolaboratif, lingkungan yang aman, dan kepemimpinan yang inklusif, insyaAllah SD Muhammadiyah 24 Surabaya akan terus bergerak menjadi sekolah karakter yang unggul, menginspirasi, dan membanggakan.” Pungkasnya. (Taufikhi).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here