Surabaya, kartanusa – Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya di Jalan Wuni Nomor 9 tidak sekadar ramai. Tetapi ada kegelisahan yang sedang dibahas, dan semangat yang sedang dibangunkan kembali. Ahad (17/05/2026).
Dalam kesempatan tersebut hadir para takmir masjid, pengelola TPQ, aktivis dakwah, mubaligh, mereka duduk bersila, mendengar, dan sesekali mengangguk. Tema utamanya sederhana: bagaimana Masjid Muhammadiyah kembali hidup, bukan hanya bangunannya, tapi denyut dakwahnya.
Majelis Tabligh (MT) dan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh (Lazismu) PDM Kota Surabaya gelar pentasyarufan Bantuan Operasional Masjid (BOM) dan Bantuan Operasional TPA/TPQ (BOT), Ahad (17/5/2026). Namun acara itu ternyata bukan sekadar seremonial pembagian bantuan, tetapi ada pesan yang lebih besar.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Majelis Tabligh Kota PDM Surabaya, Ustadz Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa Masjid Muhammadiyah harus memiliki identitas yang jelas, mulai Surat Keputusan (SK) Ketakmiran hingga logo persyarikatan Muhammadiyah.
“SK Takmir yang mengeluarkan adalah PDM Surabaya. Logo dan atribut Muhammadiyah juga harus ada di Masjid-masjid Muhammadiyah.” Tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bukan soal simbol semata, tetapi soal arah gerakan. Ia juga mengingatkan tentang Safari Subuh, jangan hanya menjadi program di atas kertas. Masjid yang belum memiliki agenda Safari Subuh diminta segera melaksanakannya.
Ustadz Imam, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa bagi Masjid yang belum mampu memberikan transport mubaligh, Lazismu Kota Surabaya siap membantu. Di titik ini terasa: dakwah tidak boleh berhenti hanya karena uang transport.
Majelis Tabligh juga memberi perhatian serius pada TPQ. Sebab banyak TPQ mulai redup, sebagian kehilangan santri, dan sebagian lagi berjalan tanpa identitas yang jelas.
“TPQ harus dihidupkan lagi dan disemarakkan. Dipastikan legalitasnya Muhammadiyah, gurunya Muhammadiyah, santrinya juga jelas.” Ujar Ustadz Imam Sapari yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kwarda Hizbul Wathan Kota Surabaya ini.
Ia bahkan menyinggung fenomena TPQ rumahan yang berjalan sendiri-sendiri tanpa keterhubungan dengan Masjid.
“Kalau ada TPQ di rumah, induknya tetap ke Masjid.” Tandas Ustadz Imam yang juga sebagai Kepala Sekolah Para Pemimpin SMP Muhammadiyah 7 Surabaya.
Pesan lain yang cukup keras muncul soal mubaligh Jum’at. Mulai sekarang, mubaligh Jum’at dan pengisi kajian diwajibkan berasal dari mubaligh Muhammadiyah yang sudah memiliki NBM dan terdata di KMM. Bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga arah manhaj dan kesinambungan dakwah.
Majelis Tabligh juga meminta seluruh kegiatan dan syiar Masjid dibuatkan berita dan diviralkan di media digital. Dakwah hari ini, kata mereka, tidak cukup hanya terdengar di mimbar. Tapi juga harus hadir di layar ponsel.
Karena itu, koordinasi dakwah digital ikut menjadi perhatian. Di sela acara, Manajer Lazismu PDM Kota Surabaya, Ustadz Moch. As’ad memunculkan isu yang lebih sensitif: pengelolaan zakat, infak, dan sedekah masjid.
Lebih lanjut, ia menyebut pentingnya pembentukan Kantor Layanan Lazismu (KLL) di Masjid, Cabang, dan Ranting.
“Kalau tidak ada KLL, nanti oleh Baznas dianggap tidak ada yang mengelola. Akhirnya larinya ke Baznas semua.” Ujarnya.
Kalimat itu membuat ruangan hening beberapa detik. Ustadz As’ad lalu melanjutkan, jika KLL sudah ada, maka Baznas akan memahami bahwa dana umat Muhammadiyah sudah dikelola sendiri secara resmi dan profesional.
“Mengelola ZIS dari jamaah kita sendiri. Tidak lari ke tempat lain.” Katanya.
Ia kemudian memberikan contoh beberapa Masjid yang dinilai berhasil mengelola donasi jamaah dengan baik, seperti Masjid Al Mufidah, Masjid Baitul Muttaqin, hingga Masjid Gunung Sari Indah (GSI).
Bahkan, menurutnya, Masjid Al Mufidah mampu menghimpun donasi hingga sekitar Rp150 juta per bulan dengan laporan yang rapi dan profesional.
Skema pengelolaan dana juga dijelaskan secara terbuka. Dari donasi yang masuk, 60 persen ditasyarufkan, 20 persen disetorkan ke Lazismu Surabaya, dan 20 persen digunakan untuk kesekretariatan operasional.
“Kalau membutuhkan dana bisa diambil kembali. Yang penting laporannya rapi.” Jelasnya.
Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya juga membuka kesempatan bagi Masjid dan TPQ Muhammadiyah yang belum menerima bantuan operasional hingga Juni 2026 untuk segera mengajukan data.
Sebab bagi mereka, Masjid bukan hanya tempat shalat, Masjid adalah pusat peradaban. Dan ketika TPQ hidup, Safari Shubuh berjalan, muballigh tertata, serta dana umat dikelola sendiri dengan amanah, Muhammadiyah sedang membangun masa depannya dari Masjid. (Syahroni NW).







