spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaAksi Solidaritas DPD IMM Riau, BEM KM Umri, dan BEM IPTAR: Peristiwa...

    Aksi Solidaritas DPD IMM Riau, BEM KM Umri, dan BEM IPTAR: Peristiwa Luthfi, Hari Kelam Matinya Demokrasi

    Pekanbaru, kartanusa – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Riau bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (BEM KM UMRI) dan BEM Institut Pendidikan Tinggi ‘Aisyiyah Riau (BEM IPTAR) menggelar aksi solidaritas di depan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Riau pada Jumat, 3 Juli 2026.

    Aksi yang diikuti oleh lebih dari 200 massa ini digelar bersamaan dengan momen saudara Muhammad Luthfi Suhaz, selaku korban kekerasan, memberikan keterangan sebagai saksi di ruang penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau.

    Aksi solidaritas ini digelar sebagai bentuk dukungan moral yang nyata kepada Muhammad Luthfi Suhaz, sekaligus sebagai pernyataan tegas bahwa seluruh elemen mahasiswa Muhammadiyah berdiri satu barisan bersamanya.

    Selain itu, aksi solidaritas mempertegas bahwa mereka berdiri bersama Luthfi. Luka Luthfi adalah luka kita bersama. Satu kader IMM terluka, kader IMM se-Indonesia marah. Ketika pejuang aspirasi dilukai, seluruh hati nurani yang masih berfungsi ikut tersakiti. Begitulah ungkapan tegas yang disampaikan oleh aksi solidaritas tersebut.

    Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum (Ketum) DPD IMM Riau, Alpin Jarkasi Husein Harahap, menyampaikan kemarahan dan keprihatinan yang mendalam saat menyampaikan orasi politik. Ia mengatakan bahwa dua hari sebelum aksi ini, tanggal 1 Juli 2026, seluruh jajaran kepolisian Indonesia merayakan Hari Bhayangkara ke-80 sebagai momentum refleksi dan proyeksi atas kinerja institusi.

    Menurutnya, perayaan Hari Bhayangkara ke-80 sebagai momentum refleksi dan proyeksi atas kinerja institusi justru menjadi hari yang kelam.

    “Namun bagi IMM Riau, 1 Juli justru terasa sebagai hari yang kelam, hari pengingat bahwa di atas Bumi Lancang Kuning ini, seorang kader mahasiswa harus menerima pukulan keras saat berjuang menyampaikan aspirasi rakyat di depan Kantor DPRD Provinsi Riau pada 22 Juni 2026. Akibatnya, korban harus menjalani perawatan intensif bahkan tindakan operasi, dan hingga hari ini masih terpaksa absen dari bangku kuliah.” Ungkapnya.

    Senada, dalam kesempatan yang sama, Presiden Mahasiswa BEM KM UMRI, Rayhan Divayo, mengecam keras tindakan represif aparat kepolisian dalam menjalankan tugas pengamanan aksi mahasiswa. Menurutnya, peristiwa yang menimpa Luthfi adalah bukti nyata bahwa citra kepolisian yang humanis masih jauh dari praktiknya di lapangan.

    “Membenturkan mahasiswa dengan masyarakat adalah wujud nyata dari tindakan provokatif dan ketidakprofesionalan aparat dalam mengelola demonstrasi.” Tegasnya.

    Sementara itu, Presiden Mahasiswa BEM IPTAR, dalam kesempatan tersebut juga mendesak agar kepolisian segera mengidentifikasi dan menangkap pelaku kekerasan. Menurutnya, penegakan hukum harus ditegakkan setegak-tegaknya, tanpa berlindung di balik bingkai narasi media.

    “Penegakan hukum harus ditegakkan setegak-tegaknya, tanpa berlindung di balik bingkai narasi media sementara fakta di lapangan berbicara sebaliknya.” Tegasnya. (Humas/Gus).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here