Inspirasi Kehidupan: Bahagia itu Sederhana, Bersama Keluarga
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
Refleksi Family Gathering Keluarga Besar Spemma Pucang Surabaya, Jum’at-Sabtu (29-30/05/2026) di Yogyakarta.
Di era modern yang serba cepat ini, definisi bahagia sering kali terdistorsi oleh pencapaian materi, status sosial, atau validasi di media sosial. Kita berlomba-lomba mengejar sesuatu yang jauh, sampai sering kali melewatkan apa yang ada di depan mata.
Padahal, jika kita mau menengok kembali ke dalam rumah, kita akan menyadari satu hal: “bahagia itu sederhana, cukup dengan berada di tengah-tengah keluarga”.
Keluarga adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu memakai “topeng”. Di luar sana, dunia mungkin menuntut kita untuk menjadi sempurna, namun di dalam hangatnya keluarga, kita diterima dengan segala kekurangan kita.
“Bahagia bersama keluarga tidak butuh kemewahan; ia hadir dalam kepulan asap kopi di pagi hari, candawa tawa di ruang tamu, atau sekadar duduk bersama menceritakan lelahnya hari yang telah lewat”
Memaknai Filosofi Jawa: “Mangan Ora Mangan, Seng Penting Kumpul”
Bicara tentang kebersamaan keluarga, masyarakat Jawa memiliki sebuah pepatah legendaris yang sangat mendalam: “Mangan ora mangan, seng penting kumpul” (Makan tidak makan, yang penting kumpul).
Bagi sebagian orang yang melihatnya secara harfiah, peribahasa ini mungkin terdengar tidak realistis atau pasrah pada keadaan. Bagaimana mungkin makan tidak penting?
Namun, jika kita menyelami maknanya lebih dalam, pepatah ini membawa pesan psikologis dan spiritual yang sangat kuat tentang prioritas hidup dan resiliensi (daya tahan).
Pertama, Ikatan Jiwa Lebih Utama dari Materi: Pepatah ini menegaskan bahwa nilai kebersamaan dan keutuhan keluarga jauh lebih tinggi nilainya daripada materi semata.
Hidup mungkin sedang sulit, cobaan finansial mungkin sedang menerpa hingga urusan isi piring pun terbatas, namun selama keluarga tetap bersatu dan saling menguatkan, penderitaan itu akan terasa jauh lebih ringan.
Kedua, Solidaritas dan Saling Berbagi: Dalam konteks masyarakat komunal, “kumpul” bukan sekadar duduk bersama. Di dalamnya ada semangat sharing.
Ketika satu anggota keluarga kekurangan, yang lain akan mengulurkan tangan. Saat semua berkumpul, beban yang berat dibagi rata, dan kegembiraan yang kecil dilipatgandakan.
Ketiga, Ketenangan Pikiran (Tentrem): Kekayaan materi yang melimpah tidak akan ada artinya jika di dalam rumah penuh dengan keheningan, keegoisan, dan perpecahan. Sebaliknya, kesederhanaan yang diiringi dengan keharmonisan akan melahirkan rasa aman dan damai di dalam hati.
“Mangan ora mangan, seng penting kumpul” adalah sebuah simbol perlawanan terhadap individualisme. Ia mengingatkan kita bahwa sekaya apa pun kita, harta terbaik yang kita miliki di dunia ini adalah orang-orang yang mengasihi kita tanpa syarat.
Bahagia itu memang sederhana. Ia tidak selalu berwujud kemewahan yang dikejar hingga ujung dunia, melainkan kehangatan yang tercipta di ruang makan rumah kita sendiri. Menghidupkan kembali esensi dari pepatah Jawa di atas membuat kita sadar:
“Materi bisa dicari, namun waktu dan kebersamaan dengan keluarga adalah sesuatu yang tak pernah bisa dibeli kembali”







