spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaDari Bali, IPHI Lepas Landas: Dari Organisasi Romantisme Menuju Organisasi Peradaban Modern

    Dari Bali, IPHI Lepas Landas: Dari Organisasi Romantisme Menuju Organisasi Peradaban Modern

    Dari Bali, IPHI Lepas Landas: Dari Organisasi Romantisme Menuju Organisasi Peradaban Modern

    Oleh Rd. H. Holil Aksan Umarzen

    (Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia 2021-2026)

    Pertama-tama, saya menyampaikan selamat dan sukses atas terselenggaranya Muktamar VIII IPHI di Bali serta terpilihnya kembali Bapak Dr. Ir. H. Erman Suparno, MBA., M.Si., sebagai Ketua Umum PP IPHI periode 2026–2031. Semoga amanah yang diemban membawa keberkahan dan kemajuan bagi organisasi serta kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

    Muktamar VIII IPHI di Bali tidak semestinya dimaknai sebagai sekadar pergantian kepemimpinan lima tahunan. Lebih dari itu, mestinya Bali harus dikenang sebagai titik lepas landas IPHI menuju babak baru yang lebih visioner.

    Bali bukan sekadar destinasi wisata. Bali adalah kota dunia, tempat bertemunya berbagai bangsa, budaya, dan peradaban. Dari pulau yang menjadi wajah Indonesia di mata dunia itu, IPHI mendapatkan momentum yang tepat untuk melakukan lompatan paradigma.

    “Sudah saatnya IPHI keluar dari jebakan romantisme masa lalu yang berlebihan”

    Tidak ada yang salah dengan sejarah. Tidak ada yang keliru dengan kebanggaan sebagai alumni haji. Tetapi organisasi besar tidak dibangun hanya dengan nostalgia. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi, bukan tempat berdiam diri.

    Dunia telah berubah, dan tantangan umat semakin kompleks. Perubahan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi syariah, ketahanan pangan, kesehatan, lingkungan, hingga perubahan geopolitik global menuntut hadirnya organisasi yang adaptif dan visioner.

    Karena itu, IPHI tidak cukup hanya menjadi organisasi silaturahmi dan seremonial, tetapi kemabruran haji harus melahirkan kebermanfaatan. Gelar haji harus melahirkan keteladanan. Persaudaraan harus melahirkan kekuatan sosial, ekonomi, pendidikan, dan peradaban.

    IPHI memiliki modal besar yang tidak dimiliki banyak organisasi lain. Jutaan alumni haji yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan kekuatan moral dan sosial yang sangat potensial. Potensi besar ini tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan simbolik, tetapi harus menjadi energi perubahan.

    Muktamar Bali hendaknya menjadi momentum perubahan besar. Ukuran keberhasilan organisasi tidak lagi sebatas banyaknya pengurus dan ramainya kegiatan, tetapi sejauh mana IPHI mampu menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

    Sudah waktunya IPHI bergerak:

    • Dari nostalgia menuju inovasi.
    • Dari simbol menuju karya.
    • Dari kebanggaan masa lalu menuju pengabdian masa depan.
    • Dari organisasi romantisme menuju organisasi peradaban modern.

    Sebab kemabruran sejati tidak berhenti di Tanah Suci. Kemabruran sejati adalah ketika nilai-nilai haji menjelma menjadi ilmu, keteladanan, pelayanan, dan kebermanfaatan bagi sesama.

    “Selamat kepada Ketua Umum PP IPHI Dr. Ir. H. Erman Suparno, MBA., M.Si., dan seluruh jajaran kepengurusan baru: dari Bali, kota dunia, IPHI lepas landas”

    Bukan untuk kembali hidup dalam romantisme masa lalu, tetapi untuk menjemput masa depan. Menuju organisasi peradaban modern yang bermartabat, mandiri, dan berkhidmat bagi umat, bangsa, dan dunia.

    Romantisme bukanlah masalah. Justru ia adalah akar yang menjaga identitas, persaudaraan, dan penghormatan kepada para pendiri. Namun romantisme yang berlebihan sering membuat organisasi lebih banyak hidup dalam narasi daripada karya, lebih sibuk berpolemik daripada berinovasi.

    “Sejarah adalah akar, romantisme adalah ruh, tetapi karya dan inovasi adalah buahnya”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here