Inspirasi Kehidupan : Menemukan Satu Irama di Tengah Riuhnya Redaksi
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)
Dunia jurnalistik adalah ekosistem yang bergerak 24 jam. Di antara deru tenggat waktu (deadline), keriuhan ruang redaksi, dan tuntutan akurasi, ada satu elemen yang seringkali menjadi penentu kesehatan mental seorang jurnalis: “rekan kerja yang sefrekuensi”.
Menjadi sefrekuensi bukan berarti selalu setuju pada setiap sudut pandang. Justru, ini adalah tentang memiliki kode etik dan standar kualitas yang sama. Mengambil hikmah pentingnya sefrekuensi, yakni:
Pertama, Menemukan Insting Berita yang Klop; Saat melihat sebuah peristiwa, kalian tidak perlu banyak bicara untuk tahu di mana letak angle yang menarik. Cukup dengan satu kerlingan mata, kalian tahu siapa yang harus diwawancara dan data apa yang harus dikejar.
Kedua, Menjaga Ritme Kerja yang Sinkron; Ketika sedang mengejar breaking news, kalian bergerak seperti mesin yang terlumasi dengan baik. Satu orang fokus pada verifikasi fakta, yang lain merangkai narasi. Tidak ada yang perlu diperintah secara berlebihan; semua tahu porsinya.
Ketiga, Saling Menjaga Integritas; Di saat godaan klik atau tekanan pihak luar datang, rekan sefrekuensi adalah jangkar. Mereka adalah orang pertama yang mengingatkan untuk tetap berpegang pada kode etik jurnalistik.
Bagi jurnalis, rekan sefrekuensi seringkali merangkap menjadi banyak peran, diantaranya:
- Editor Bayangan; Seseorang yang bisa kita mintai tolong untuk membaca draf tulisan di menit terakhir tanpa rasa sungkan, karena kita tahu mereka akan memberikan kritik yang jujur namun membangun.
- Teman Berbagi Beban; Liputan di lapangan seringkali melelahkan secara emosional. Memiliki teman yang paham betapa beratnya meliput tragedi atau betapa frustrasinya menghadapi narasumber yang bungkam adalah sebuah kemewahan.
- Partner Debat; Diskusi paling seru biasanya terjadi di warung kopi setelah liputan selesai, mendebatkan kebijakan publik atau sekadar membahas pemilihan kata dalam sebuah judul berita.
Produk jurnalistik yang hebat jarang lahir dari kerja isolasi. Kolaborasi antara individu yang memiliki energi dan visi yang selaras biasanya menghasilkan karya yang lebih dalam, lebih tajam, dan lebih berdampak. Ketika frekuensi sudah sama, pekerjaan yang berat terasa lebih ringan, dan setiap pencapaian terasa seperti kemenangan bersama.
“Jurnalisme mungkin adalah profesi yang paling individualis di dunia, namun hasil terbaiknya selalu lahir dari harmoni tim yang memahami arti sebuah kebenaran”







