spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaCatatan Sejarah Nusantara : Masjid Agung Surakarta Bentuk Persahabatan Sejati

    Catatan Sejarah Nusantara : Masjid Agung Surakarta Bentuk Persahabatan Sejati

    Catatan Sejarah Nusantara : Masjid Agung Surakarta Bentuk Persahabatan Sejati 

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo, Mubaligh Muda Muhammadiyah Kota Surabaya)

    Masjid Agung Solo atau Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta sebagai simbol persahabatan sejati, hal ini merujuk pada kerukunan antara ulama dan keraton, serta toleransi beragama di Kota Solo.

    Namun, belakangan ini istilah persahabatan sejati di Solo lebih sering dikaitkan dengan Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Mari kita bedah keduanya, agar kita mendapatkan gambaran yang utuh tentang hal tersebut, yakni:

    Masjid Agung Solo: Persahabatan Ulama dan Umara

    Masjid yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono III pada tahun 1763 ini adalah simbol persahabatan antara penguasa (Keraton) dan rakyat (Ulama/Umat Islam). Ada beberapa pendekatan terkait Masjid ini, yang mestinya menjadi renungan bagi kita, para generasi muda bangsa Indonesia, yakni:

    Pertama, Akulturasi Budaya; Bentuk bangunannya yang menggunakan atap tumpang (tajug) mencerminkan persahabatan antara nilai Islam dengan budaya Jawa.

    “Ini menunjukkan bahwa Islam tidak datang untuk menghapus tradisi lokal, melainkan merangkulnya. Tentunya, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, khususnya tentang aqiqah”

    Kedua, Pusat Harmoni; Di sekitar Masjid ini (kawasan Kauman), para ulama dan pedagang hidup berdampingan secara damai selama ratusan tahun, menciptakan ekosistem sosial yang sangat rukun.

    Masjid Sheikh Zayed: Simbol Persahabatan Antarnegara

    Masjid yang lebih baru yang diresmikan akhir 2022, merupakan Masjid yang menjadi monumen persahabatan sejati paling nyata di Solo saat ini. Berikut beberapa catatan kecil tentang Masjid tersebut:

    Pertama, Hadiah dari UEA; Masjid ini adalah hibah penuh dari Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), untuk Presiden Joko Widodo.

    Kedua, Makna Diplomatik; Pembangunan Masjid ini tidak didasarkan pada kepentingan politik praktis, melainkan murni sebagai tanda persaudaraan (ukhuwah) antara dua pemimpin negara muslim.

    Ketiga, Arsitektur; Desainnya merupakan replika dari Grand Mosque di Abu Dhabi, membawa suasana Timur Tengah ke tanah Jawa, melambangkan persahabatan lintas budaya.

    Toleransi : Persahabatan Sejati dalam Keberagaman

    Ada fakta unik di balik Masjid Agung Solo ini, dimana lokasinya berada tidak jauh dari Gereja GPIB Penabur dan kawasan Pasar Gede (Pecinan). Selama berabad-abad, kumandang adzan dari Masjid Agung dan lonceng gereja saling bersahutan tanpa ada konflik.

    “Masyarakat Solo melihat ini sebagai persahabatan sejati antar umat beragama yang menjadi pondasi kuat bagi kedamaian kota”

    Nah, benar adanya bahwa Masjid Agung Solo (dan kini ditambah Masjid Sheikh Zayed) adalah representasi dari persahabatan sejati dalam berbagai dimensi, yakni :

    • Dimensi Spiritual; Persahabatan manusia dengan Sang Pencipta.
    • Dimensi Sosial; Persahabatan antar suku dan agama.
    • Dimensi Politik; Persahabatan antar pemimpin dan antar bangsa.
    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here