spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaMenggenggam Harapan Inklusi, Upaya Spempat Gadung Surabaya Membangun Sekolah Ramah untuk Semua

    Menggenggam Harapan Inklusi, Upaya Spempat Gadung Surabaya Membangun Sekolah Ramah untuk Semua

    Surabaya, kartanusa — Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang semakin kompleks, Sekolah Berbasis Pesantren, Boarding School SMP Muhammadiyah 4 (Spempat) Gadung Surabaya menyalakan harapan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

    Kamis, 10 Juli 2025, Spempat Gadung Surabaya menyelenggarakan sebuah pelatihan istimewa; “Kurikulum Adaptif untuk Pembelajaran Inklusi”. Bukan sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini menyentuh sisi kemanusiaan yang jarang dibicarakan dalam ruang-ruang kelas.

    Ustadzah Andriana Dwi Astuti, seorang praktisi pendidikan inklusi, menjadi narasumber utama. Ia membuka pelatihan dengan sebuah pernyataan yang menggetarkan hati guru-karyawan Spempat.

    “Di masyarakat, disabilitas sering dianggap sebagai anak yang tidak bisa apa-apa. Padahal mereka hanya butuh dipahami dan difasilitasi.” Ujarnya.

    Ia pun memandu peserta menelusuri jenis-jenis disabilitas, mulai dari tunadaksa, down syndrome, hingga spektrum autisme.

    “Bayangkan jika seorang anak tunadaksa ingin Sekolah di sini. Apakah kita siap menyambutnya?” Tanyanya retoris. Jawabannya jelas: siap.

    Surabaya telah dikenal sebagai kota ramah anak, dan SMP Muhammadiyah 4 pun bertekad menjadi bagian dari gerakan itu. Namun kesiapan bukan hanya soal fasilitas, melainkan juga soal hati dan pikiran para pendidik.

    Dalam paparannya, Andriana menekankan bahwa kurikulum tidak boleh seragam. “Harus dimodifikasi, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.” Ungkapnya.

    Ia juga mengajak guru untuk mengenali karakter unik dari setiap kondisi, seperti anak tunagrahita yang mudah meniru, atau anak dengan autisme yang punya daya ingat luar biasa namun kesulitan dalam interaksi sosial.

    Pelatihan ini juga mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan inklusi tak bisa dilakukan sendirian. Orang tua adalah mitra utama. Mereka harus diberi keberanian untuk menampilkan anaknya ke publik, bukan menyembunyikannya karena rasa malu.

    “Anak-anak ini bisa sekolah, bisa bekerja, bisa mandiri. Tapi mereka butuh lingkungan yang percaya pada potensi mereka.” Tutup Andriana.

    Dengan langkah ini, SMP Muhammadiyah 4 Surabaya bukan hanya membangun Sekolah, tapi juga membangun harapan, bahwa setiap anak berhak tumbuh dan belajar, apa pun kondisinya. (Taufiqurrahman).

    ponpesummurquroo
    faibaznas
    faiums
    s2pendidikan
    umroh
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here