spot_img
No menu items!
More
    HomeBeritaKolaborasi 3 Kampus Besar, Perkuat Gerakan Eliminasi Stunting Berbasis Sanitasi di Kabupaten...

    Kolaborasi 3 Kampus Besar, Perkuat Gerakan Eliminasi Stunting Berbasis Sanitasi di Kabupaten Malaka, NTT

    Malaka, kartanusa – Upaya percepatan eliminasi stunting di Indonesia kini semakin diperkuat melalui kolaborasi akademik lintas perguruan tinggi.

    Melalui program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI), kegiatan yang dipandegani oleh Dr. Rita Parwati S.P., M.E. dari Universitas Brawijaya dengan menggandeng 2 institusi pendidikan tinggi — Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) — menggelar kegiatan Pendampingan dan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Kegiatan dilaksanakan pada Selasa–Rabu, 8–9 Juli 2025 di Hotel Nusa Dua, Betun, Kabupaten Malaka, sebagai upaya menyinergikan peran akademisi, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat dalam membangun gerakan sadar sanitasi demi menurunkan angka stunting.

    Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah Kabupaten Malaka, Bapak Ferdinand Un Muti S.Hut., M.Si dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam percepatan eliminasi stunting melalui perbaikan sanitasi berbasis masyarakat.

    UNAIR diwakili oleh tiga Dosen Ahli Kesehatan Lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM): Dr. Sudarmaji, S.KM., M.Kes, Dr. Retno Adriyani, ST., M.Kes dan Novi Dian Arfiani, S.KM., M.KL.

    Ketiganya menjadi narasumber dan fasilitator dalam sesi diskusi dan pelatihan terkait pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme beserta turunannya sebagai salah satu alternatif menciptakan lingkungan yang sehat dan menurunkan angka stunting di Kabupaten Malaka.

    Salah satu upaya pengelolaan sampah organik adalah dengan membuat eco-enzyme. Selanjutnya eco-enzyme dapat dibuat bahan sanitizer seperti sabun untuk cuci tangan yang menunjang higiene personal. Upaya berantai ini merupakan siklus yang terkait antara sanitasi lingkungan, pencegahan infeksi, dan penurunan stunting.

    “Stunting bukan hanya persoalan gizi, tetapi sangat berkaitan dengan kondisi sanitasi, mulai dari akses air bersih, pembuangan sampah, hingga kebiasaan buang air besar sembarangan,” jelas Dr. Sudarmaji dalam paparannya.

    Sementara itu tim Universitas Brawijaya memberikan transfer teknologi terkait pemanfaatan turunan ecoenzyme untuk mendukung eco-farming dan tim ITS mengusung pemanfaatan turunan ecoenzyme sebagai bahan disinfeksi udara dalam ruangan.

    Tim PMKI dari 3 kampus ternama ini, sangat menyadari bahwa keterlibatan aktif masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah untuk menciptakan transformasi perilaku kolektif terkait sanitasi untuk mencegah stunting.

    Kegiatan yang dihadiri Sekda Kabupaten Malaka, unsur Bappeda, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas P2KBP3A, Kepala Dinas Dukcapil, dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, serta tokoh adat dan tokoh masyarakat diikuti dengan antusias selama dua hari.

    Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa praktik sanitasi sehat dapat dijadikan norma sosial baru yang berlaku secara luas, sehingga pada akhirnya bersinergi dalam upaya penurunan angka stunting.

    Mengacu pada data Kementerian Kesehatan RI tahun 2024, angka stunting nasional berada di 19,8%, angka stunting di Kabupaten Malaka berada sedikit di bawah angka nasional, yaitu 15,4% atau sebanyak 2.289 anak.

    Dilain sisi Kabupaten Malaka termasuk wilayah yang masih menghadapi tantangan besar dalam hal akses air bersih dan fasilitas sanitasi layak. Kondisi sanitasi yang buruk dan keterbatasan air bersih memperbesar terjadinya risiko stunting pada anak.

    Kondisi tersebut menyebabkan anak semakin mudah mengalami risiko terjangkit penyakit infeksi dan mengganggu penyerapan nutrisi pada anak sehingga pada akhirnya anak menjadi stunting.

    “Lingkungan yang bersih adalah kunci agar anak dapat tumbuh sehat, dapat menyerap gizi atau nutrisi secara optimal. Tanpa kondisi itu, pemberian makanan tambahan pun tidak akan maksimal,” ujar Dr. Retno Adriyani.

    Dengan dukungan akademisi, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat, diharapkan kegiatan ini mampu menjadi model percontohan penguatan sanitasi berbasis komunitas untuk mendukung eliminasi stunting secara berkelanjutan.

    Penulis : Dr Sudarmaji,S.KM.,M.Kes, Dr. Retno Adriyani,ST.,M.Kes dan Novi Dian Arfiani, S.KM.,M.KL

    ponpesummurquroo
    faibaznas
    faiums
    s2pendidikan
    umroh
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here