spot_img
No menu items!
More
    HomeBeritaTenda Panggung Harapan: Ikhtiar Relawan Muhammadiyah Jawa Timur Lindungi Penyintas di Aceh...

    Tenda Panggung Harapan: Ikhtiar Relawan Muhammadiyah Jawa Timur Lindungi Penyintas di Aceh Tamiang

    Aceh Tamiang, kartanusa – Terus bergerak, di tengah hamparan lumpur sisa banjir bandang yang masih menyelimuti Desa Sunting, Kecamatan Bandar Pusaka, sebuah gerakan kemanusiaan sedang berlangsung dengan penuh ketelitian. Pada Sabtu, (17/01/2026), sejumlah relawan dari berbagai unsur Muhammadiyah Jawa Timur berkumpul di Dusun Anggrek dengan satu misi memastikan warga memiliki tempat berteduh yang aman, kering, dan sehat.

    “Meskipun personel tim sedang terbatas karena sebagian besar relawan lainnya dikerahkan untuk giat kebencanaan di titik lain, semangat tim yang ada tidak surut.” Ujar Yusuf Dwipa Wijaya salah satu relawan Muhammadiyah Jawa Timur ini.

    Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, para relawan ini bahu-membahu menuntaskan pendirian tenda panggung pengungsian bagi penduduk terdampak.

    Mitigasi Berbasis Riset: Mengapa Harus Tenda Panggung?

    Menurutnya, ada alasan teknis dan medis yang kuat di balik keputusan relawan untuk membangun tenda dengan model panggung kayu. Ia juga mengatakan bahwa pengerjaan pondasi ini memang memakan waktu lebih lama, namun langkah ini sangat krusial mengingat kondisi geografis Aceh Tamiang di mana sungai masih berpotensi meluap jika hujan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah hulu.

    “Secara ilmiah, riset manajemen bencana menegaskan bahwa hunian darurat yang ditinggikan dari permukaan tanah (elevated shelters) merupakan strategi preventif yang efektif.” Ungkapnya.

    Berdasarkan standar kesehatan lingkungan, lanjut Dwipa, panggilan akrabnya, bahwa lantai panggung berfungsi untuk memisahkan penyintas dari kelembapan tanah dan aliran air (run-off) yang dapat memicu infeksi kulit (Dermatomikosis) serta leptospirosis.

    “Selain itu, model ini menjaga suhu di dalam tenda tetap stabil, yang sangat penting untuk menekan angka kejadian ISPA, terutama bagi 51 jiwa lansia dan 38 balita di Desa Sunting yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.” Katanya
    .
    Sinergi Vital MDMC dan Lazismu Jawa Timur, Keberhasilan pendirian fasilitas ini merupakan buah dari koordinasi taktis antara MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Jawa Timur dan Lazismu Jawa Timur.

    “Sinergi ini memastikan bahwa keahlian teknis dalam manajemen bencana berpadu dengan ketepatan penyaluran logistik kemanusiaan.” Tandasnya.

    Adapun personel yang terlibat langsung dalam pengerjaan, pemindahan, dan pendirian tenda panggung ini meliputi:

    • M. Halim Rojab E.K (Lazismu Jawa Timur).
    • Fathurrahim (Lazismu Surabaya).
    • Yusuf Dwipo Wijoyo (Lazismu Surabaya).
    • Muhammad Agus Aziz (Kokam Jawa Timur).
    • Arkom Mujahid Fillah (Kokam Jawa Timur).
    • Arief Wibowo Joko Priyanto (MDMC Kota Batu).
    • Nanda Frendy Happy (MDMC Tulungagung).
    • Khusnul Abidin (MDMC Jawa Timur).

    Harapan Warga Penuh Bahagia

    Wujud syukur dari balik tenda, bagi warga seperti Sri Wahyuni, aksi nyata para relawan ini adalah jawaban atas doa-doa mereka di tengah ketidakpastian. Dengan suara yang tulus, ia menyampaikan rasa terima kasihnya sesaat setelah tenda panggung tersebut rampung dikerjakan.

    “Nama saya Sri Wahyuni, warga Desa Sunting. Saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada relawan Muhammadiyah Jawa Timur yang sudah membantu kami untuk mendirikan tenda untuk tempat kami tinggal. Semoga Allah membalas kebaikan bapak-bapak sekalian dengan kemudahan segala urusan.” Ungkapnya penuh haru.

    Melanjutkan misi pemulihan, meskipun tenda panggung kini telah berdiri, perjuangan relawan Muhammadiyah Jawa Timur masih terus berlanjut. Fokus saat ini bergeser pada pemulihan sektor pendidikan dan layanan kesehatan.

    Layanan medis mobile telah menjangkau 92 jiwa, termasuk penanganan intensif bagi penyintas stroke. Ke depannya, tim memprioritaskan pengadaan 200 paket perlengkapan sekolah (school kit) dan meja lipat agar anak-anak di Bandar Pusaka dapat segera kembali belajar dan meraih masa depan mereka pasca-bencana. (Yusuf Dwipa).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here