spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaCatatan Sejarah Nusantara : Kolaborasi Indah KH. Mas Mansur dan Bung Karno

    Catatan Sejarah Nusantara : Kolaborasi Indah KH. Mas Mansur dan Bung Karno

    Catatan Sejarah Nusantara : Kolaborasi Indah KH. Mas Mansur dan Bung Karno

    Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.

    (Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo, Wakil Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Bela Negara Jawa Timur)

    Dalam berbagai literatur, hubungan antara KH. Mas Mansur dan Bung Karno adalah salah satu kolaborasi paling unik dalam sejarah kemerdekaan kita. Mereka adalah dua kutub yang berbeda: satu adalah Ulama dari Sidoresmo, Surabaya, satu lagi adalah Nasionalis dari Peneleh, Surabaya.

    Namun, di dalam wadah Empat Serangkai (bersama Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantara), mereka menjadi motor penggerak massa yang sangat ditakuti Jepang.

    Berikut ini adalah beberapa catatan kecil tentang dinamika hubungan mereka, yakni:

    Pertama, Saling Melengkapi: Orasi dan Hati. Bung Karno sangat mengagumi kedalaman ilmu agama dan ketenangan Mas Mansur.

    “Jika Bung Karno adalah sosok yang meledak-ledak dan emosional dalam pidatonya, Mas Mansur adalah sosok yang logis, sistematis, dan menyejukkan”

    Bung Karno berperan membakar semangat nasionalisme rakyat. Sedangkan Mas Mansur berperan memberikan legitimasi religius. Beliau meyakinkan umat Islam bahwa membantu kemerdekaan adalah ibadah.

    Kedua, Diplomasi di Tengah Tekanan Jepang; Saat Jepang membentuk PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), Mas Mansur dan Bung Karno sering terlihat bersama. Ada sebuah kisah menarik di mana mereka harus bermain peran di depan tentara Jepang.

    Mereka tampak bekerja sama dengan Jepang untuk menarik simpati penjajah. Namun di belakang layar, mereka menggunakan fasilitas Jepang (radio dan rapat akbar) untuk menyisipkan pesan-pesan kemerdekaan kepada rakyat.

    Ketiga, Perdebatan Intelektual yang Sehat; Meski bersahabat, mereka sering berdebat hebat, terutama soal hubungan agama dan negara.

    Bung Karno cenderung sekuler dan ingin memisahkan urusan agama dari urusan negara (terpengaruh pemikiran Mustafa Kemal Ataturk).

    Sedangkan Mas Mansur dengan tegas berargumen bahwa negara Indonesia yang merdeka harus berlandaskan nilai-nilai ketuhanan yang kuat.

    “Uniknya, perdebatan mereka tidak pernah berakhir dengan permusuhan. Mereka justru saling menghormati sebagai sesama intelektual”

    Keempat, Peristiwa Mundurnya Mas Mansur; Ada momen mengharukan sekaligus menunjukkan prinsip teguh Mas Mansur. Pada tahun 1944, beliau memilih mundur dari kepengurusan PUTERA dan kembali ke Surabaya.

    Alasannya, KH. Mas Mansur merasa tidak tega melihat penderitaan rakyat akibat kebijakan Romusha (kerja paksa) Jepang.

    Mas Mansur kemudian berpamitan kepada Bung Karno dan Bung Hatta untuk kembali ke Sidoresmo dan fokus membina umat di akar rumput. Bung Karno sangat merasa kehilangan sosok penyeimbang seperti Mas Mansur saat itu.

    Kelima, Penghormatan Bung Karno; Setelah Indonesia merdeka dan Mas Mansur wafat di penjara Belanda (1946), Bung Karno adalah salah satu tokoh yang paling gigih mendorong agar KH. Mas Mansur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

    “Bagi Bung Karno, Mas Mansur adalah simbol Ulama yang tidak bisa dibeli”

    Tanpa Mas Mansur, Bung Karno mungkin kesulitan merangkul massa Islam yang sangat besar saat itu. Mas Mansur adalah sosok yang membuat nasionalisme Bung Karno menjadi lebih bernyawa di mata para santri.

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here