Ngaji Berkah Ramadhan Edisi 2 : Pentingnya Meningkatkan Pemahaman Agama
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Artinya :Dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata: ‘Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya.
Dia berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Ia berkata: ‘Engkau benar.’
Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: ‘Jelaskan kepadaku tentang ihsan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Diamelihatmu.”
Dia berkata: “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.”
Ia berkata: “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku: “Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.” (HR Muslim)
Melalui hadits Nabi Muhammad SAW tersebut, maka bisa kita fahami bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan; ia adalah laboratorium sempurna untuk mempraktikkan tiga pilar utama agama kita: Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya saling terikat erat dalam satu tarikan napas selama bulan suci ini.
Berikut ini adalah beberapa catatan kecil bagaimana di bulan Ramadhan ini, kita mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut:
Pertama, Ramadhan sebagai Manifestasi Islam (Syariat); Islam adalah dimensi lahiriah atau amal perbuatan. Puasa Ramadhan adalah salah satu dari lima rukun Islam.
Secara formal bahwa ketaatan kita dalam menjalankan perintah Allah SWT secara fisik—menahan lapar, haus, dan syahwat dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Sedangkan dalam hal disiplin Ibadah, yakni kita melaksanakan shalat tarawih, zakat fitrah, dan tadarus Al-Qur’an adalah bentuk pengabdian lahiriah yang memperkokoh identitas kita sebagai Muslim.
Kedua, Ramadhan sebagai Ujian Iman (Keyakinan); Iman adalah dimensi batiniah. Puasa adalah ibadah yang paling pribadi karena hanya kita dan Allah SWT yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak.
Imanan wa Ihtisaban, sebagaimana hadits Nabi tersebut bahwa puasa harus dilandasi keyakinan penuh kepada Allah SWT dan pengharapan pahala.
“Puasa Ramadhan ini harus mampu menumbuhkan karakter sabar dan percaya kepada Allah SWT bahwa keimanan kita pasti diuji”
Ujian kita lulus, saat kita tetap teguh beribadah meski fisik lelah, karena kita meyakini janji Allah jauh lebih manis daripada sepiring makanan di siang hari.
Ketiga, Ramadhan sebagai Puncak Ihsan (Kesempurnaan); Ihsan adalah tingkatan tertinggi, yaitu “Beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.”
Menanamkan Sikap Muraqabah (Merasa Diawasi); Di dalam kamar yang sepi dengan air dingin yang tersedia, seorang mukmin tetap tidak minum. Mengapa?
“Karena ia berada pada level Ihsan—merasa selalu diawasi oleh Allah”
Menanamkan Keikhlasan Mutlak; Ramadhan melatih kita untuk jujur pada diri sendiri dan Allah SWT, mengubah kebiasaan buruk bukan karena takut dilihat orang, tapi karena malu kepada Allah SWT.
Visualisasi hubungan Islam, Iman dan Ikhsan dan Ramadhan, jika diibaratkan sebuah bangunan:
- Islam adalah bangunannya (struktur fisik puasa).
- Iman adalah pondasinya (alasan mengapa kita berpuasa).
- Ihsan adalah cahaya dan keindahan di dalamnya (kualitas dan ketulusan puasa kita).
“Ramadhan melatih Islam kita agar disiplin, memperkuat Iman kita agar kokoh, dan mengasah Ihsan kita agar selalu merasa dekat dengan Sang Pencipta”







