spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaKHGT : Perbandingan Matlak Global dan Lokal

    KHGT : Perbandingan Matlak Global dan Lokal

    KHGT : Perbandingan Matlak Global dan Lokal

    Oleh Prof. K.H. Agus Purwanto, D.Sc.

    (Ahli Fisika Teoritik, Penulis Buku Ayat-ayat Semesta)

    Matlak Global atau Lokal? Muh. Nursalim : Matlak itu makanut tuluk. Tempat terbitnya hilal. Itu sifatnya global atau lokal. Bab ini dibahas gayeng oleh para ulama. Berikut ini saya kutipkan kitab Al Fiqhu Islami wa Adillatuhu, karya Syeikh Wahbah Zuhaili.

    Saya pilih kitab ini karena bentuknya muqoron. Berbandingan mazhab. Sehingga cukup membuka satu kitab beberapa pendapat para ulama dapat diketahui.

    Pendapat ulama mazhab Hanafi. Sebagai berikut:

    قال الحنفية: اختلاف المطالع، ورؤية الهلال نهاراً قبل الزوال وبعده غير معتبر، على ظاهر المذهب، وعليه أكثر المشايخ، وعليه الفتوى، فيلزم أهل المشرق برؤية أهل المغرب، إذا ثبت عندهم رؤية أولئك، بطريق موجب، كأن يتحمل اثنان الشهادة، أو يشهدا على حكم القاضي، أو يستفيض الخبر

    Artinya :“Ulama Hanafiyah berkata: perbedaan matla‘ (tempat terbit hilal) serta terlihatnya hilal pada siang hari, baik sebelum zawal maupun sesudahnya, tidak dianggap berpengaruh menurut zahir mazhab. Pendapat ini dianut oleh mayoritas masyayikh dan menjadi dasar fatwa. Karena itu, penduduk wilayah timur wajib mengikuti rukyat penduduk wilayah barat, apabila di sisi mereka telah terbukti rukyat tersebut dengan cara yang mewajibkan, seperti: dua orang menanggung kesaksian, atau mereka bersaksi atas putusan hakim, atau berita itu tersebar luas (mutawatir/istifadhah)”

    Pendapat ulama mazhab Maliki. Sebagai berikut:

    وقال المالكية: إذا رئي الهلال، عمَّ الصوم سائر البلاد، قريباً أو بعيداً، ولا يراعى في ذلك مسافة قصر، ولا اتفاق المطالع، ولا عدمها، فيجب الصوم على كل منقول إليه، إن نقل ثبوته بشهادة عدلين أو بجماعة مستفيضة، أي منتشرة.

    Artinya :“Ulama Malikiyah berkata: apabila hilal telah terlihat, maka kewajiban berpuasa berlaku umum bagi seluruh negeri, baik yang dekat maupun yang jauh. Dalam hal ini tidak diperhatikan jarak safar (masāfah qaṣr), tidak pula kesamaan matla‘ maupun perbedaannya. Maka wajib berpuasa atas setiap orang yang sampai kepadanya kabar tersebut, apabila penetapan diterima melalui kesaksian dua orang yang adil atau melalui sekelompok orang yang berita mereka tersebar luas, yakni kabar yang meluas dan masyhur.”

    Pendapat ulama mazhab Hambali:

    وقال الحنابلة: إذا ثبتت رؤية الهلال بمكان، قريباً كان أو بعيداً، لزم الناس كلهم الصوم، وحكم من لم يره حكم من رآه.

    Artinya :“Ulama Hanabilah berkata: apabila rukyat hilal telah tetap (terbukti) di suatu tempat, baik dekat maupun jauh, maka seluruh kaum muslimin wajib berpuasa. Hukum orang yang tidak melihat hilal sama dengan hukum orang yang melihatnya.”

    Dari tiga pendapat mazhab di atas. Dapat diketahui bahwa mereka menganut matlak global. Di manapun hilal terlihat maka umat Islam di tempat yang berbeda harus berpuasa. Tiga pendapat ulama mazhab tersebut dalam kajian fikih dinamakan jumhur (mayoritas). Apakah semua ulama mazhab berpendapat seperti itu ?

    Tidak, mazhab Syafii berpendapat berbeda. Berikut saya kutibkan pendapat ulama mazhab Syafii. Sebagai berikut:

    وأما الشافعية فقالوا: إذا رئي الهلال بيلد لزم حكمه البلد القريب لا البعيد، بحسب اختلاف المطالع في الأصح

    Artinya :“Adapun ulama Syafi‘iyah berkata: apabila hilal terlihat di suatu negeri, maka ketetapan hukumnya berlaku bagi negeri yang dekat, bukan yang jauh, sesuai dengan perbedaan matla‘ menurut pendapat yang paling sahih.”

    Pendapat mazhab Syafii tersebut berdasarkan sejumlah dalil. Salah satunya adalah hadis riwayat muslim berikut ini.

    صحيح مسلم – (ج 3 / ص 126)

    عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَىَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِى آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَقُلْتُ رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ أَنْتَ رَأَيْتَهُ فَقُلْتُ نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ أَوَلاَ تَكْتَفِى بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ فَقَالَ لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم

    Artinya :“Dari Kuraib, bahwa Ummu al-Fadhl binti al-Harits mengutusnya menemui Mu‘awiyah di negeri Syam. Kuraib berkata: “Aku tiba di Syam dan menyelesaikan keperluan Ummu al-Fadhl. Ketika itu masuklah bulan Ramadan sementara aku berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jumat.

    Kemudian aku kembali ke Madinah pada akhir bulan. Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما bertanya kepadaku, lalu ia menyebut tentang hilal dan berkata: ‘Kapan kalian melihat hilal?’

    Aku menjawab: ‘Kami melihatnya pada malam Jumat.’ Ia berkata: ‘Apakah engkau sendiri yang melihatnya?’ Aku menjawab: ‘Ya. Orang-orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa, dan Mu‘awiyah pun berpuasa.’ Ibnu Abbas berkata: ‘Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami akan terus berpuasa sampai kami menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihat hilal.’ Aku berkata: ‘Tidakkah kalian cukup dengan rukyat Mu‘awiyah dan puasanya?’

    Ia menjawab: ‘Tidak. Demikianlah Rasulullah ﷺ memerintahkan kami.’

    Setelah mengutip hadis tersebut. Syeikh Wahbah Zuhaili menambahkan kalimat ini.

    فدل على أن ابن عباس لم يأخذ برؤية أهل الشام، وأنه لا يلزم أهل بلد العمل برؤية أهل بلد آخر.

    Hadis ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas tidak mengikuti rukyat penduduk Syam, dan bahwa penduduk suatu negeri tidak wajib mengikuti rukyat penduduk negeri lain.

    Lalu para ulama jumhur mendasarkan pendapatnya dengan dali apa ?. Berikut adalah penjelasan Syeikh Wahbah pada kitab tersebut.

    ادلة الجمهور: استدلوا بالسنة والقياس.

    أما السنة: فهو حديث أبي هريرة وغيره: صوموا لرؤيته، وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين؟ فهو يدل على أن إيجاب الصوم على كل المسلمين معلق بمطلق الرؤية، والمطلق يجري على إطلاقه، فتكفي رؤية الجماعة أو الفرد المقبول الشهادة.

    وأما القياس: فإنهم قاسوا البلدان البعيدة على المدن القريبة من بلد الرؤية، إذ لا فرق، والتفرقة تحكُّم، لا تعتمد على دليل.

    Dalil jumhur. Mereka berdalil dengan Sunnah dan qiyas.

    Adapun Sunnah, yaitu hadis Abu Hurairah dan selainnya:

    Artinya :“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika hilal tertutup atas kalian (tidak terlihat), maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya‘ban menjadi tiga puluh hari.”

    Hadis ini menunjukkan bahwa kewajiban puasa atas seluruh kaum muslimin digantungkan pada adanya rukyat hilal. Lafaz yang bersifat umum berlaku sesuai keumumannya, sehingga cukup dengan rukyat oleh satu orang atau sekelompok orang yang diterima kesaksiannya.

    Adapun qiyas, maka mereka menganalogikan negeri-negeri yang jauh dengan kota-kota yang dekat dari negeri tempat terjadinya rukyat, karena tidak ada perbedaan yang hakiki. Membedakan antara keduanya adalah sikap tahakkum (penetapan sepihak) yang tidak didasarkan pada dalil.

    Clear, matlak itu ada yang berpendapat bersifat lokal. Matlaknya umat Islam Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau rote. Itulah mazhab Syafii. Adapun matlak global. Tidak mempertimbangkan teritori politik. Seluruh muka bumi adalah matlak yang sama. Jika muslim Amerika sudah melihat hilal maka muslim Indonesia juga melakukan hal yang sama. Itulah pendapat jumhur ulama.

    “Pembahasan matlak ini penting. Karena terkait dengan penentuan awal puasa”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here