spot_img
No menu items!
More
    HomeOpiniSang Surya Telah Bersinar atau Sang Surya Tetap Bersinar

    Sang Surya Telah Bersinar atau Sang Surya Tetap Bersinar

    Sang Surya Telah Bersinar atau Sang Surya Tetap Bersinar 

    Oleh Ustadz Anas Febriyanto

    (Ketua Bidang Tabligh PC IMM Surabaya)

    Lagu Mars Sang Surya sering kita nyanyikan dengan penuh semangat. Nada menggelora, dada dibusungkan, dan rasa bangga menguat. Tapi ada satu hal yang sering luput, apakah liriknya benar-benar kita hayati, atau hanya berhenti di bibir?

    Frasa “telah bersinar” memang enak diucapkan. Ia memberi kesan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang sudah selesai membuktikan diri. Seolah-olah tugas besar itu sudah tuntas. Padahal, justru di situlah jebakannya. Ketika kita terlalu nyaman dengan kata “telah”, kita pelan-pelan berhenti bergerak.

    Tidak bisa dipungkiri, Muhammadiyah memang sudah banyak berbuat. Amal usaha berdiri di mana-mana. Sekolah, kampus, rumah sakit, semuanya menjadi bukti nyata. Nama besar itu tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari kerja keras, keikhlasan, dan keberanian para pendahulu.

    Tapi pertanyaannya sederhana, apakah kita hari ini masih berada dalam jalur yang sama?

    Kalau jujur, ada kegelisahan yang mulai terasa. Amal usaha memang berkembang, tapi tidak selalu diiringi penguatan nilai. Kaderisasi tetap berjalan, tapi belum tentu melahirkan kader yang tahan uji. Bahkan, dalam beberapa situasi, semangat Ber-muhammadiyah terasa lebih administratif daripada ideologis.

    Di titik ini, kita perlu jujur pada diri sendiri. “Telah bersinar” tidak cukup, bahkan bisa berbahaya kalau hanya dijadikan kebanggaan tanpa tanggung jawab. Karena itu, lebih tepat kalau kita menggantinya dengan satu kalimat yang lebih tegas: Sang Surya tetap bersinar.

    Ini bukan soal mengubah lirik, tapi soal mengubah cara berpikir. “Tetap bersinar” itu artinya tidak ada alasan untuk berhenti, tidak ada ruang untuk puas diri. Apa yang sudah dibangun oleh generasi sebelumnya bukan untuk dikenang, tapi untuk dilanjutkan.

    Semangat ini sebenarnya sudah lama diingatkan oleh Djarnawi Hadikoesumo. Beliau tidak sekadar membuat lagu, tapi menitipkan pesan. Bahwa Muhammadiyah itu ibarat matahari harus terus menyala, bukan sekali bersinar lalu redup.

    Masalahnya, menjaga cahaya itu tidak mudah, apalagi di zaman sekarang Godaan pragmatisme besar. Ukuran keberhasilan sering kali bergeser ke angka-angka, jumlah siswa, besar anggaran, atau luas bangunan. Semua itu penting, tapi bukan segalanya. Kalau ruhnya hilang, yang tersisa hanya kulit.

    Di sinilah peran kader jadi penting. Bukan hanya hadir, tapi hidup. Bukan hanya ikut, tapi menggerakkan. Kader yang berani berpikir, berani berbeda, dan tetap teguh pada nilai. Tanpa itu, “tetap bersinar” hanya akan jadi slogan.

    Kita juga perlu berani mengakui cahaya itu bisa redup. Sejarah banyak memberi pelajaran. Banyak gerakan besar yang dulu hebat, tapi perlahan hilang karena merasa sudah cukup. Karena lupa bahwa menjaga lebih sulit daripada memulai.

    Muhammadiyah jangan sampai seperti itu. Maka, setiap kali Mars Sang Surya dinyanyikan, seharusnya ada pertanyaan yang muncul dalam diri: kita ini bagian dari cahaya, atau cuma penonton?

    “Kalau hanya bangga dengan masa lalu, siapa yang akan menjaga masa depan Sang Surya tidak butuh dikenang. Tetapi butuh dijaga Dan menjaga itu artinya satu, yaitu tetap bersinar, apa pun keadaannya sesuai lirik yang resmi yaitu tetap bersinar”

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here