Madiun, kartanusa – Mahasiswa semester 6 Prodi Kebidanan D3 Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) sebelumnya Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) melaksanakan praktik kebidanan selama dua pekan, mulai 20 April hingga 3 Mei 2026 di wilayah kerja Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Madiun.
Berikut penuturan salah satu mahasiswa Prodi Kebidanan UMMAD (UMJT) yang mengikuti praktik kebidanan tersebut, Lutfiah Indriani.
“Saya mengikuti praktik kebidanan di Bidan Praktik Mandiri (BPM) Tutik Yuliawati, SST yang berada di (Kecamatan) Jiwan, (Kabupaten) Madiun, sesuai jam kerja pagi dan jam kerja sore.” Ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa saat mengikuti praktik, ia melakukan pemeriksaaan tanda-tanda vital (TTV), pemeriksaan ibu hamil (ANC terpadu), membantu pelayanan persalinan, serta melakukan pemantauan ibu nifas dan neonatus.
“Selain itu juga ikut dalam pelayanan imunisasi anak, pelayanan KB, dan membantu pemeriksaan pasien yang datang berobat.” Ujar mahasiswa kelahiran Malang tersebut.
Menurut Lutfiah, panggilan akrabnya, praktik kebidanan yang dikerjakan tersebut juga sekaligus untuk mencari pasien yang akan mendapat asuhan kebidanan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas sampai KB sebagai bagian dari Laporan Tugas Akhir.
Momen Krusial yang Bermakna
Lutfiana menyampaikan, ada momen-momen krusial saat praktik kebidanan yang ia lakukan yang memiliki tingkat kesulitan cukup besar. Milsanya saat mengikuti proses persalinan ibu hamil.
“Proses persalinan merupakan materi yang cukup rumit dan materi sangat penting di kebidanan karena menyangkut dua nyawa yang diselamatkan.” Tandas Lutfiah.
Ada pula momen saat harus menghitung detak jantung janin (DJJ) didalam perut ibu hamil. Lalu proses palpasi abdomen (pemeriksaan fisik perut dengan cara meraba).
“Begitu pula saat harus berhadapan dengan neunatus (bayi baru lahir), dimana pada saat lahir itu ada penilaian selintas bayinya cukup umur atau tidak, menangis kuat atau tidak, kondisi kulitnya bagaimana.” Terang Lutfiah.
Kemudian saat periode pemulihan (nifas), menurut Lutfiana, peserta praktik harus bisa mengetahui tanda-tanda bahaya seperti ada pendarahan, uterus berkontraksi atau tidak.
“Kalau KB itu juga harus benar entah posisi, atau obat KB yang diberikan. Misalnya mau suntik KB yang 3 bulan harus diberikan yang 3 bulan jangan sampai salah memberikan KB.” Jelas Lutfiah.
Lutfiah berharap dengan ikut praktik kebidanan ini bisa menambah pengalaman dan keterampilan dalam memberikan pelayanan kebidanan serta dapat memberikan manfaat bagi ibu dan anak di masyarakat. (Humas/Joko).







