Tadabbur Alam Bromo: Momentum Hijriyah Memperkokoh Risalah
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wonokromo, Guru Ismuba Spemma Pucang Surabaya)
(Tadabbur Alam bersama Sekolah Inovatif SD Muhammadiyah 7 Surabaya, Ahad -Senin, 14-15 Juni 2026).
Refleksi Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriyah di hamparan pasir dan megahnya Gunung Bromo bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah Tadabbur Alam yang agung. Di bawah langit yang luas dan di hadapan mahakarya Sang Pencipta, kita menundukkan hati untuk merenungi makna hakiki dari sebuah perjalanan waktu.
Mari dalam kesempatan ini, kita bersama meneguhkan komitmen di awal tahun baru Islam, dengan beberapa hal berikut:
Pertama, Menakar Aqidah di Atas Puncak Ketinggian: Gunung Bromo mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Berdiri di sana, di tengah bentang alam yang begitu perkasa, kita menyadari betapa kecilnya diri ini di hadapan Al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Kebesaran).
“Hijrah adalah komitmen diri memindahkan hati dari ketergantungan kepada makhluk menuju ketergantungan mutlak kepada Allah SWT”
Menjadikan Tahun Baru 1448 Hijriyah sebagai tahun penguatan tauhid, di mana setiap napas dan langkah senantiasa terikat dengan pengawasan Allah.
Kedua, Memperbaiki Ibadah: Meniti Jalan Pendakian Spiritual. Sebagaimana mendaki gunung yang membutuhkan stamina, kesabaran, dan arah yang tepat, ibadah adalah pendakian menuju ridha-Nya.
Seringkali kita lelah dalam urusan duniawi, namun lalai dalam mengejar derajat spiritual. Hijrah tahun ini mestinya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas shalat, kedalaman tilawah, dan keikhlasan dalam beramal.
“Mari menjadikan ibadah bukan sekadar rutinitas gugur kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani yang memberikan energi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari”
Ketiga, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Menjadi Cahaya di Tengah Kabut. Di balik kabut Bromo yang kadang pekat, cahaya matahari selalu menemukan jalannya untuk menyingsing. Begitu pula peran seorang Muslim dalam masyarakat.
Kondisi zaman yang penuh tantangan menuntut dakwah yang lebih cerdas, santun, dan berdampak. Dakwah amar ma’ruf adalah mengajak pada kebaikan dengan keteladanan, sementara nahi munkar adalah keberanian bersuara di atas prinsip kebenaran.
Mari bersama menguatkan peran diri sebagai pembawa risalah kebenaran di lingkungan keluarga, profesi, dan masyarakat luas. Dan jangan lupa menjadikan media dan segala sarana yang ada sebagai jalan untuk menebar kemaslahatan dan membendung kemungkaran.
“Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari kondisi diri yang kurang baik menuju kondisi yang lebih diridhai Allah SWT”
Semoga di tahun 1448 Hijriyah ini, langkah kita di Gunung Bromo menjadi saksi atas niat suci untuk memperbaiki aqidah, meningkatkan ibadah, dan mengokohkan dakwah. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448, semoga momentum ini menjadi awal dari perubahan besar yang membawa berkah bagi diri, keluarga, dan bangsa.







