Surabaya, kartanusa – Ahad, 21 Juni 2026 di Kampi Hotel Surabaya, Asosiasi Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia Jawa Timur gelar silaturahmi Asosiasi MBG Indonesia, BGN Jatim, Mitra SPPG, sekaligus Audiensi dengan mitra SPPG terkait isu-isu dan informasi kebijakan-kebijakan baru pemerintah seputar MBG.
Salah satu yang menjadi isu penting adalah pengurangan SPPG dari 27.000 menjadi 21.000. Acara tersebut dimulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB dengan peserta dari Asosiasi MBG Indonesia yang berjumlah kurang lebih 149 Mitra SPPG.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim, Adik Dwi Putranto, Ketua Asosiasi MBG Indonesia, M. Turino Junaedi, Kepala KPPG Wilayah 1 Surabaya, Kusmayanti, Kepala KPPG Wilayah 2 Jember, Said Karim, dan Hj. Indah, Bendahara Asosiasi Pengusaha MBG Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, ditegaskan bahwa Assosiasi MBG akan terus mengayomi, mengawal usulan-usulan mitra SPPG yang mayoritas pengusaha daerah di Jawa Timur, UMKM yang patungan untuk membangun dapur, yang sumber dana untuk investasi dapur ada yang mengajukan kredit bank, menjual ternak ataupun asetnya.
Selain itu, asosiasi juga menjembatani usulan mitra ke pemerintah, termasuk adanya isu pengurangan jumlah SPPG dari 27.000 menjadi 21.000. Acara tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam, dengan adanya paparan dari pihak KPPG serta juga sesi tanya jawab kepada pihak mitra yang mengirimkan perwakilan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Asosiasi MBG Indonesia, Turino Junaedy menyampaikan jika hari ini para mitra berkumpul karena resah atas adanya kasus korupsi yang terungkap dalam BGN belum lama ini. Dimana Kepala (eks) BGN, Dadan Hindayana telah ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Kejaksaan Republik Indonesia.
“Karena ada kegaduhan di BGN Pusat ya tanggal 2 Juni 2026. Jadi mereka itu resah.” Ujarnya.
Meskipun ada kasus korupsi baru terungkap, para mitra BGN yang di daerah menurut, Junaedy tetap mendukung program dari Presiden Prabowo Subianto ini.
“Ini bagus sekali, kita dukung sekali, adanya MBG itu.” Tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa meskipun terus mendukung program ini, tetapi tetap ada keresahan yang muncul dari para mitra saat ini. Terutama yang telah terlanjur melakukan pembangunan dapur baru.
“Yang pertama bagaimana nasib yang sudah bangun.” Katanya.
Ia juga mengatakan bahwa baru-baru ini, BGN telah mengumumkan tidak akan melakukan penambahan dapur SPPG kembali. Kemudian yang menjadi keresahan lain, lanjut Junaedy, terkait efisiensi hingga pengurangan ribuan dapur SPPG.
“Adanya sekarang 27.000 dijadikan 21.000. Nah, itu sudah mana saja yang kena.” Tandasnya.
Selain itu, masalah lain soal hari libur siswa yang membuat dapur SPPG tak beroperasi sementara. “Terus yang ketiga itu adanya hari libur yang tidak dibayarkan begitu itu. Nah, kegaduhan kegelisahan-kegelisahan ini kita dari asosiasi menampung.” Ungkap Junaedy.
Selain tiga permasalahan utama itu, tambah Junaedy, ada permintaan lain agar BGN tak serta merta melakukan penutupan terhadap dapur yang bermasalah. Menurutnya, harus didahului dengan peringatan satu, dua dan baru kemudian disuspend.
“Tidak bisa tiba-tiba disuspend begitu saja.” Tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa semua permasalahan ini akan ditampung semuanya. Pihaknya berharap dan akan berupaya bisa melakukan audiensi secara langsung dengan BGN.
“Kita akan sampaikan secara elegan mungkin dengan dengan minta audiensi.” Pungkasnya. (Humas/SW).







