spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaDin Syamsuddin Tegaskan Bung Karno Tokoh Muslim dan Nasionalis pada Haul ke...

    Din Syamsuddin Tegaskan Bung Karno Tokoh Muslim dan Nasionalis pada Haul ke 56 Bung Karno

    Jakarta, kartanusa – Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Periode 2005-2015, Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA., yang sering dipanggil Din Syamsuddin menegaskan bahwa Proklamator Kemerdekaan Indonesia sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir. Sukarno atau Bung Karno, adalah seorang tokoh nasionalis sekaligus tokoh Muslim. Hal tersebut disampaikan dalam ceramahnya pada Haul ke 56 Bung Karno di Masjid At-Taufik, Lenteng Agung, Jakarta 21 Juni 2026.

    Haul tersebut diprakarsai oleh DPP Baitul Muslimin (Bamusi) DPP PDIP, dihadiri ratusan jamaah dan sejumlah tokoh PDIP antara lain; Dr. Ahmad Basarah yang mewakili Ibu Megawati Sukarnoputri, Abdullah Azwar Anas, Gus Falah dan Helmi Hidayat masing-masing sebagai Ketua Panitia dan Sekretaris.

    Dalam tausiyahnya, Din Syamsuddin, yang dikenal ikut mendirikan Bamusi bersama almarhum Taufik Kiemas, banyak alasan yang membuktikan bahwa Bung Karno adalah Tokoh Muslim dengan wawasan keislaman yang luas dan dalam.

    “Bung Karno memadukan antara wawasan kebangsaan dan wawasan keislaman, yang baginya tidak ada pemisahan antara keduanya.” Ujarnya.

    Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa menurut Bung Karno, cita-cita kebangsaan Indonesia selaras dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, sebagai Penggali Pancasila, Bung Karno sangat menekankan posisi sentral Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terhadap sila-sila lain.

    “Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 3 Agustus 1965 menganugerahi Bung Karno Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Filsafat Ilmu Tauhid.” Ungkapnya.

    Din Syamsuddin juga menegaskan bahwa Bung Karno dalam Buku Di Bawah Bendera Revolusi pada artikel Tahun 1924 menulis bahwa Islam yang akan kita wujudkan di Indonesia Merdeka nanti ada Islam yang berkemajuan, paham yang senada dengan gagasan Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan.

    “Oleh karena itulah pada 1940, Bung Karno menulis artikel yang kemudian diterbitkan jadi buku dengan judul Islam Sontoloyo.” Tandas Din Syamsuddin Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini.

    Buku ini, lanjut Din Syamsuddin,  merupakan autokritik Bung Karno terhadap keberislaman umat Islam waktu itu yang dianggapnya dogmatik dan cenderung membawa penafsiran Al-Qur’an yang literal atau harfiah.

    “Hal ini bertentangan dengan Islam Berkemajuan dan tidak akan membawa umat kepada kemajuan.” Katanya.

    Din Syamsuddin, dalam tausiyahnya juga mengangkat pikiran cemerlang Bung Karno tentang Trisakti sebagai arah panduan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, yakni; Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam budaya. Menurutnya, Trisakti sangat dan tetap relevan dengan kehidupan bangsa dewasa ini.

    “Maka seyogyanya para pemimpin bangsa mengikuti dan menerapkan secara konsisten dan konsekwen.” Tegas Din Syamsuddin, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

    Di akhir tausiyahnya, Din Syamsuddin yang pernah diangkat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Bamusi mendampingi Ketua Ibu Megawati Sukarno Putri, berpesan agar PDIP jangan jauh dari Islam dan Umat Islam.

    “Baitul Muslimin yang merupakan kelanjutan dari Jamiyatul Muslim, organisasi dakwah di tubuh Partai Nasional Indonesia di Era Bung Karno perlu berfungsi sebagai sarana dakwah dan wahana pemaduan nasionalisme dan Islam.” Pungkasnya. (Humas/Arif).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here