Catatan Sejarah Nusantara: Konferensi Asia Afrika, Peran Penting Indonesia di Kancah Internasional
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Pimpinan Redaksi Kabar Berita Nusantara)
Konferensi Asia Afrika (KAA) adalah peristiwa bersejarah berskala internasional yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, Indonesia, pada 18–24 April 1955.
Peristiwa tersebut menjadi bagi kita generasi bangsa, bahwa Indonesia adalah bangsa yang mulia, yang selalu menjaga perdamaian dunia sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa. Mari bersama mencermati dan memahami peristiwa sejarah ini sebagai refleksi untuk bangkit menuju Indonesia Emas, yakni:
Latar Belakang dan Tujuan KAA
Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara dari benua Asia dan Afrika yang sebagian besar baru saja meraih kemerdekaan. Tujuan utamanya adalah:
Pertama, Melawan Imperialisme dan Kolonialisme: Memperjuangkan kepentingan bersama dan menentang segala bentuk kolonialisme serta neokolonialisme.
“Kolonialisme dan neokolonialisme alias penjajahan adalah perbuatan keji dan mungkar serta tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Oleh karena itu sesuai dengan pembuatan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945), maka harus dihapuskan dari muka bumi”
Kedua, Solidaritas Global: Menciptakan rasa solidaritas dan persatuan di antara negara-negara Dunia Selatan.
Ketiga, Perdamaian Dunia: Membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia di tengah ketidakmampuan PBB dalam menyelesaikan persoalan global saat itu.
“Komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia dengan tetap sebagai bagian dari negara non blok”
Para Tokoh Pelopor Inspirator dan Hasil KAA
KAA dipelopori oleh lima negara (Panca Negara) yang diwakili oleh tokoh-tokoh berikut:
- Ali Sastroamidjojo (Indonesia).
- Jawaharlal Nehru (India).
- Mohammad Ali Bogra (Pakistan).
- Sir John Kotelawala (Ceylon/Sri Lanka).
- U Nu (Burma/Myanmar).

Dasasila Bandung, Apa Itu?
Salah satu hasil paling monumental dari konferensi ini adalah Dasasila Bandung, yaitu sepuluh prinsip mengenai hak asasi manusia, penghormatan kedaulatan negara, serta kerja sama internasional yang menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa terjajah dalam perjuangan kemerdekaan dan perdamaian dunia. Berikut ini bunyinya:
- Menghormati hak asasi manusia dan Piagam PBB.
- Menjunjung tinggi kedaulatan serta integritas wilayah negara lain.
- Mengakui kesetaraan seluruh ras dan bangsa.
- Tidak mengintervensi urusan dalam negeri negara lain.
- Menghormati hak pertahanan diri (individu/kolektif) sesuai Piagam PBB.
- Tidak menggunakan pertahanan kolektif untuk kepentingan negara besar atau menekan negara lain.
- Menolak agresi atau kekerasan terhadap kedaulatan negara lain.
- Penyelesaian sengketa secara damai (negosiasi, mediasi).
- Meningkatkan kerja sama dan kepentingan bersama.
- Menghormati hukum dan kewajiban internasional.
Peninggalan dan Peringatan KAA
- Museum Konferensi Asia Afrika: Berlokasi di Gedung Merdeka, Bandung, tempat di mana konferensi tersebut diselenggarakan. Gedung ini diabadikan sebagai museum untuk mengabadikan semangat KAA.
- Gerakan Non-Blok: Semangat dari KAA menjadi landasan bagi lahirnya Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.
- Asia Africa Festival: Sebagai bentuk peringatan rutin, Pemerintah Kota Bandung menyelenggarakan Asia Africa Festival setiap tahun untuk mengenang spirit konferensi tersebut.








