Refleksi Hari Anak Nasional: Anak Investasi Dunia dan Akhirat, Mari Wujudkan
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2026, bukan sekadar seremonial tahunan untuk meniup lilin kue ulang tahun atau membagikan bingkisan seremonial. Lebih dari itu, momentum ini adalah cermin besar bagi kita semua—orang tua, pendidik, masyarakat, dan negara—untuk menatap masa depan bangsa melalui mata anak-anak kita.
Tema; “Anak adalah Investasi Dunia dan Akhirat, Mari Wujudkan”, membawa kesadaran yang sangat fundamental: bahwa mendidik dan merawat anak melampaui batas-batas kalkulasi materi duniawi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya :“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Melalui dua dalil tersebut, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, Hakikat Investasi dalam Spektrum Ganda: Dalam bahasa ekonomi, investasi menuntut modal di muka dengan harapan keuntungan di masa depan. Namun, investasi pada anak memiliki dimensi yang jauh lebih luas:
- Investasi Dunia (Jembatan Peradaban): Anak-anak hari ini adalah para pemimpin, ilmuwan, pemikir, dan tenaga kerja yang akan memegang kendali kemajuan bangsa di masa depan.
“Kualitas fisik, kesehatan gizi, kecerdasan intelektual, serta keterampilan mereka akan menentukan apakah bangsa ini berdiri sebagai pemain utama atau sekadar penonton di kancah global”
- Investasi Akhirat (Amal Jariyah Tanpa Putus): Di sinilah letak perbedaan paling hakiki. Seorang anak yang dididik dengan nilai-nilai luhur, budi pekerti, dan fondasi spiritual yang kokoh akan menjadi amal jariyah. Doa tulus dari anak yang saleh dan salihah adalah salah satu dari sedikit hal yang tidak terputus amalnya ketika seseorang telah tiada.
“Setiap kebaikan yang diajarkan dan diamalkan oleh anak akan mengalirkan pahala kepada orang tua dan pendidiknya”
Kedua, Tantangan Nyata di Era Modern: Mewujudkan investasi dunia dan akhirat ini tentu bukan jalan yang mudah. Tantangan yang dihadapi generasi hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan era-era sebelumnya:
- Arus Digitalisasi dan Disrupsi Informasi: Gadget dan internet telah menjadi “orang tua kedua” bagi banyak anak.
“Tanpa pendampingan yang tepat, anak-anak rentan terpapar konten negatif, kecanduan gawai, hingga degradasi interaksi sosial secara langsung”
- Krisis Karakter dan Empati: Kemajuan teknologi yang instan seringkali mengikis kesabaran, ketahanan mental (resilience), serta kepedulian sosial anak-anak terhadap lingkungan sekitarnya.
- Lingkungan yang Belum Sepenuhnya Ramah Anak: Kasus kekerasan, perundungan (bullying), baik di lingkungan fisik maupun dunia maya, masih menjadi ancaman nyata yang mencederai hak-hak tumbuh kembang anak.
Ketiga, Langkah Nyata: Apa yang Harus Kita Wujudkan? Untuk memastikan anak-anak benar-benar menjadi investasi yang membanggakan di dunia dan menyelamatkan di akhirat, ada tiga pilar utama yang harus dikerjakan bersama:
- Keteladanan di Lingkungan Keluarga: Rumah adalah madrasah pertama. Anak tidak belajar dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita lakukan.
“Keharmonisan, kejujuran, dan kedisiplinan yang dicontohkan orang tua adalah cetak biru pertama kepribadian anak”
- Pendidikan yang Membentuk Karakter dan Akal: Sekolah dan lembaga pendidikan tidak boleh hanya mengejar target akademis semata.
“Kurikulum harus mampu menyeimbangkan kecerdasan kognitif dengan penguatan karakter, integritas, nasionalisme, dan kecerdasan spiritual”
- Ruang Aman dan Perlindungan Menyeluruh: Negara dan masyarakat wajib menjamin terciptanya ekosistem yang melindungi anak dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, serta eksploitasi, sehingga mereka dapat tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri.
“Anak-anak bukanlah beban, melainkan amanah terindah sekaligus titipan masa depan”
Apa yang kita tanam di dalam diri mereka hari ini, baik melalui kasih sayang, pendidikan, nilai moral, maupun doa, akan kita petik hasilnya—kelak di dunia sebagai kemajuan peradaban, dan di akhirat sebagai penolong penyejuk pandangan.
“Mari jadikan Hari Anak Nasional sebagai titik tolak untuk memperbaharui komitmen kita: Mendidik dengan hati, mengarah dengan keteladanan, demi mewujudkan generasi emas yang berdaya saing global dan berakhlak mulia”








