Pemuda Harus Apa, Agent of Change atau Agent of Loss?
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Wakil Sekretaris DPW GBN, Bendahara Kwartir Wilayah Hizbul Wathan, Wakil Sekretaris LPHU, Wakil Sekretaris PW IPHI, Sekretaris PW AMHI Jatim)
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Momentum ini selalu membangkitkan kembali memori kolektif tentang keberanian para pemuda lintas suku, agama, dan daerah yang berikrar menyatukan tumpah darah, bangsa, dan bahasa yang satu: Indonesia.
Namun, pertanyaannya hari ini: di tengah dinamika zaman yang serba cepat dan penuh distraksi, di mana posisi pemuda sebenarnya?
Apakah pemuda hari ini berdiri sebagai Agent of Change (agen perubahan) yang membawa kemajuan, atau justru tergelincir menjadi Agent of Loss (agen kerugian/kehancuran)?
Menjadi Agent of Change: Harapan dan Aksi Nyata
Menjadi agen perubahan bukanlah hal yang abstrak. Di era modern, peran ini bisa diwujudkan melalui:
Pertama, Inovasi dan Kolaborasi: Memanfaatkan penguasaan teknologi dan kreativitas untuk menghadirkan solusi atas persoalan sosial di lingkungan sekitar.
Kedua, Integritas Moral: Menjadi penjaga nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan semangat gotong royong yang menjadi akar kebangsaan.
Ketiga, Kontribusi Nyata: Mengambil peran aktif di berbagai lini, baik pendidikan, sosial, ekonomi kreatif, maupun dakwah dan pemberdayaan masyarakat, seperti yang ditunjukkan oleh para pemuda penggerak di akar rumput.
Ancaman Menjadi Agent of Loss
Sebaliknya, pemuda juga rentan terjebak dalam arus negatif yang menjadikan mereka agent of loss, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun bangsa. Hal ini terjadi ketika:
Pertama, Apatis dan Kehilangan Arah: Acuh tak acuh terhadap masa depan bangsa, mudah menyerah pada keadaan, atau menghabiskan waktu pada hal-hal yang tidak produktif.
Kedua, Penyalahgunaan Teknologi: Terjebak dalam disinformasi, konsumerisme berlebihan, atau polarisasi digital yang memecah belah persatuan.
Ketiga, Degradasi Karakter: Hilangnya kepedulian sosial, melemahnya etika, serta lunturnya semangat literasi dan kerja keras.
Pilihan ada di tangan generasi muda: memilih menjadi bagian dari solusi yang membangun peradaban, atau menjadi penonton yang merugi di tengah sejarah bangsanya sendiri.
“Pemuda hari ini harus sadar, bahwa masa depan bangsa tidak sedang menunggu, melainkan dibentuk dari apa yang mereka pilih dan kerjakan hari ini”
Tujuh Golongan Yang Dinaungi Alloh SWT Pada Hari Kiamat
Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita dalam haditsnya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh: (Al-Bukhari dan Muslim).









