spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaJokowi: The Ultimate Politician

    Jokowi: The Ultimate Politician

    Jokowi: The Ultimate Politician

    Oleh KH. Nurbani Yusuf

    (Komunitas Padhang Makhsyar, Pusat Studi Pemikiran Islam Kiai Haji Ahmad Dahlan)

    “Ulama boleh salah, tak boleh bohong. Politisi boleh bohong, tak boleh salah”

    Saya bukan pendukung; saya hanya menaruh respek. Jokowi tangguh, totalitas, dan penuh seluruh.

    Nabi SAW bersabda :“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sementara itu, Nikita Khrushchev pernah berpesan :“Jangan percaya politisi yang berjanji membangunkan jembatan di tempat yang tidak ada sungainya.”

    Sayidina Ali r.a. berkata :“Jangan katakan siapa dirimu, sebab musuhmu takkan percaya itu, dan kawanmu tak butuh itu.”

    Saya berkata :“Politik itu seni bersiasat. Tidak disebut politik jika tidak bersiasat.”

    • Ken Arok menyelingkuhi istri tuannya, lalu membunuh Mpu Gandring sang guru, dan menjadikan Kebo Ijo—sahabat dekatnya—sebagai tumbal. Konspirasi perebut kekuasaan terus berlangsung sejak era Dinasti Singhasari.
    • Perang Bubat menyisakan duka mendalam bagi Ratu Diah Pitaloka, putri tercinta Prabu Lingga Buana. Berawal dari undangan palsu—yang niat awalnya untuk menghadiri pernikahan—sebelum Gajah Mada membelokkan arahnya demi memposisikan hal itu sebagai tanda takluk demi ambisi Sumpah Palapa.
    • Perebutan kekuasaan antara Joko Tingkir dan Arya Penangsang pun penuh sensasi dan intrik. Siasat kuda betina Joko Tingkir cukup membuat Penangsang yang digdaya itu melemah dan ambruk oleh sebilah keris.
    • Isu Dewan Jenderal juga tak pernah bisa dijelaskan secara utuh dalam peristiwa penculikan G30S/PKI. Lawan politik Soeharto jelas membantah adanya kudeta merangkak tersebut.
      Kekuasaan memang tak datang dengan ramah; ia harus dijemput dengan cara paksa. Machiavelli dengan nada lembut berkata: “Tujuan menghalalkan segala cara.”
    • Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata :“Jenazah Nabimu masih hangat, belum sempat dikubur, kalian sudah berebut jabatan.”
    • Dinamika perebutan kekuasaan terus berlangsung dan tak pernah meredup. Kaum Murjiah hanya mengakui Sayidina Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. sebagai khalifah. Kaum Rafidhah hanya mengakui Sayidina Ali r.a. Sementara itu, Bani Umayyah mengakui Sayidina Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan Muawiyah r.a. tanpa menyertakan Ali r.a., sebelum akhirnya Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685 M) menggagas rekonsiliasi Khulafaur Rasyidin dengan meninggalkan Muawiyah dan memasukkan kembali Sayidina Ali r.a.
    • Bahkan, cucu kesayangan Nabi SAW diintimidasi sebelum dibunuh—semuanya karena politik, kekuasaan, dan jabatan.

    “Agama dan politik adalah dua hal yang berbeda, bahkan cenderung saling menafikkan”

    Pisahkan agama dan politik, sebab politik memang tak pernah benar-benar bersih. Jika agama masuk ke dalam politik, politik tidak lantas menjadi bersih; justru agama yang terkontaminasi oleh politik. Kaidahnya adalah:

    Pertama, Politisi yang jujur pasti ambruk.

    Kedua, Agamawan pendusta sudah pasti hilang marwah.

    Seringkali kita luput melihat: ketika Sayidina Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah, Zubair, Abu Ubaidah, dan Sa’ad radhiyallahu ‘anhum berebut kekuasaan, apakah saat itu mereka bertindak sebagai politisi atau agamawan?

    iklanupdate
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here