Surabaya, kartanusa – Terus berkemajuan dan mencerahkan, membentuk ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademis tetapi juga ketakwaan spiritual menjadi komitmen utama yang terus digaungkan oleh Sekolah Unggul Nasional SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya.
“Melalui penerapan konsep School Religious Culture (SRC) atau Budaya Agama di Sekolah, Spemma Pucang Surabaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan ke dalam seluruh aktivitas harian warga sekolah.” Ujar Ustadz Misbach Noehruddin, S.Si., MM., Kepala Spemma Pucang Surabaya, setelah acara deklarasi School Religious Culture (SRC) di Masjid Sholahuddin Spemma, Sabtu (12/09/2026).
Lebih lanjut, Ustadz Misbach, panggilan akrabnya, menegaskan bahwa penerapan SRC di lingkungan Spemma berlandaskan pada beberapa pilar utama pembentukan karakter. Pada aspek pembiasaan ibadah dan spiritual harian, lanjutnya, para siswa dibiasakan melaksanakan salat berjamaah—mulai dari salat Dhuha, Dzuhur, hingga Ashar—di sekolah.
“Rutinitas ini dipadukan dengan program tahfiz dan tadarus Al-Qur’an serta hafalan surat-surat pilihan yang dilaksanakan secara konsisten sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai.” Ungkapnya.
Selain ibadah mahdlah, tambah Ustadz Misbach, penguatan akhlakul karimah juga menjadi fokus harian. Budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun) diterapkan secara merata antara siswa, guru, hingga staf kependidikan.
“Nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab turut ditanamkan guna membentuk kepekaan sosial yang tinggi di kalangan pelajar.” Pungkasnya.
Senada dengan itu, Ustadz Syafi’ur Rahman, ST., Wakil Kepala Spemma Pucang Surabaya, yang juga Ketua Tim School Religious Culture (SRC) Spemma menegaskan bahwa Spemma Pucang Surabaya berkomitmen dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai juga diwujudkan melalui deklarasi anti-kekerasan dan bullying.
“Secara rutin, sekolah menggelar deklarasi bersama yang melibatkan siswa, guru, serta wali murid, seperti pada momentum Forum Taaruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) untuk memastikan zero tolerance terhadap segala bentuk perundungan fisik maupun verbal.” Tutur Ustadz Syafi’, panggilan akrabnya.
Menurutnya, penguatan budaya SRC ini dirancang agar para peserta didik Spemma Pucang Surabaya tumbuh menjadi generasi yang seimbang; yang kuat aqidahnya, ibadahnya, mulia akhlaknya dan wawasannya luas.
“Melalui fondasi ketakwaan yang kokoh dan empati sosial yang tinggi, lulusan Spemma diharapkan tidak hanya siap menghadapi tantangan global yang kompetitif, tetapi juga memiliki karakter islami yang kuat di tengah masyarakat.” Pungkasnya. (Humas/Gus).








