Surabaya, kartanusa – Pergi ke Bromo jangan lupa beli duren, Perguruan Muhammadiyah memang keren. Begitulah pantun penuh semangat yang dilantunkan oleh Ustadz Dikky Syadqomullah, S.H.I., M.Hes., Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, saat acara pengangkatan kembali dua Kepala Sekolah Muhammadiyah di lingkungan Muhammadiyah Wonokromo.
Ustadz Munahar, S.H.I., M.Pd., sebagai Kepala Sekolah Qur’anic and Internasional Insight SD Muhammadiyah 6 Gadung, dan Ustadzah Norma Setyaningrum, S.Pd., M.Pd., sebagai Kepala Sekolah Karakter SD Muhammadiyah 24 Ketintang. Keduanya memasuki periode ketiga kepemimpinan, masa bakti 2025–2027.
Pantun sederhana itu bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat akan pentingnya menjaga dan memperjuangkan amal usaha Muhammadiyah (AUM). Dalam suasana penuh khidmat, Ustadz Dikky menyampaikan enam pesan utama yang menjadi bekal perjalanan kepemimpinan ke depan.
Pertama, Kebersamaan; Ber-shaf dan Kokoh Laksana Bangunan. Mengutip firman Allah dalam QS. As-Saff (61) ayat 4, beliau menekankan makna bunyanun marsus, bangunan yang tersusun rapat dan kokoh.
Yang artinya :“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
“Barisan yang rapat, disiplin, dan bersatu adalah gambaran kekuatan kolektif. Itulah pola yang harus dimiliki Kepala Sekolah, agar mampu menyiapkan dan menyongsong segala tantangan amal usaha Muhammadiyah mendatang.” Ujar Ustadz Dikky yang juga anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Kedua, Keistiqamahan; Jangan lengah di periode ketiga. Biasanya, periode ketiga dalam sebuah jabatan cenderung melandai.
“Semua sudah tertata, ritme mulai terbiasa, lalu rasa lengah bisa menyelinap.” Tegasnya.
Di sinilah, menurut Ustadz Dicky, dibutuhkan istiqamah, tetap teguh di jalan kemuliaan Muhammadiyah yang berkemajuan.
Poin 3–6, Tadabbur Al-‘Ashr: Iman, Amal, Nasihat, dan Sabar
Empat pesan terakhir, diikat dengan tadabbur QS. Al-‘Ashr, yang menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang:
- Beriman.
- Beramal shalih.
- Saling menasihati dalam kebaikan.
- Dan saling menasihati dalam kesabaran
“Kesabaran menjadi kunci yang paling ditekankan. Dengan istilah khas Jawa, “Jangan bendol buri”, jangan mudah menyerah, jangan gampang patah semangat.” Ungkapnya.
“Guru harus punya jiwa sabar, karena dari kesabaran itulah lahir kekuatan mendidik anak-anak berakhlak mulia.” Tandasnya.
Jangan Larut dalam Keluh Kesah
Mengakhiri sambutannya, ia menegaskan agar Kepala Sekolah dan seluruh guru tidak larut dalam keluh kesah ketika menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun luar.
“Sebab, keluhan tidak melahirkan solusi, sementara kesabaran, kebersamaan, dan istiqamah akan membuka jalan menuju keberkahan.” Katanya.
Dengan rangkaian pesan itu, acara pengangkatan kembali dua Kepala Sekolah Muhammadiyah ini bukan sekadar formalitas jabatan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen perjuangan.
“Mendidik generasi berakhlak, berilmu, dan berdaya saing dengan pondasi kokoh ala bunyanun marsus.” Pungkasnya. (Taufik H.).







