Inspirasi Kehidupan : Paradoks Masjid Horor
Oleh KH. Nurbani Yusuf
(Pengasih Komunitas Padhang Makhsyar)
Pekat asap djie sam soe di Padhang Makhsyar, ngaji nguppi ngudud. Pernah Chines masuk tidak melepas alas kaki karena mengira bukan Masjid. Pernah pendeta dan putranya minta ijin bermunajad tengah malam. Pernah artis ibukota rebahan karena lelah rehat kampanye.
Pernah rombongan bantengan rehat di halaman Masjid. Beberapa Masjid ingin tampil excellent melayani jamaah, kemudian di buat SOP ketat. Bukan kenyamanan yang di dapat, tapi kaku kehilangan nuansa.
Paradoks Masjid Horor
Di Jogja, Saya pernah diusir gegara istirahat lima belas menit di Masjid dengan manajemen langit, meski promo Masjid ramah, nyatanya hanya berharap wajah sumringah sikit saja tak jumpa.
Tidak ada keistimewaan yang bisa dibanggakan atau kemewahan yang dipujikan. Seperti Masjid-masjid lainnya yang penuh pesona. Dikelola dengan manajemen langit.
Imam tartil sekelas Masjidil Haram. Muadzin merdu suara Daud. Karpet wangi, bau dupa dari gaharu. Kamar mandi bersih dengan air hangat. Suguhan teh dan kopi tak pernah telat. Berbagi sayur setiap subuh atau berbagi berkah setiap bada jum’at atau perolehan kotak amal puluhan juta setiap akhir pekan yang dipublikasi menjelang khatib naik mimbar didapat dari sumbangan keliling di medsos.
Kesahajaan di Padhang Makhsyar, berlangsung natural. Tanpa pelatihan, atau diada-adakan. Terletak dipinggir jalan raya. Tak ada pintu, baik pintu pagar atau pintu bangunan. Tak ada petugas keamanan atau marbot. Sebab itu tak pernah di kunci. Bersyukur, belum pernah ada barang hilang. Sebab tak ada kotak amal yang dipasang atau barang berharga lainnya yang pantas dicuri.
Di Padhang Makhsyar tak ada barang hilang, semua menjadi sedekah. Mukena, mushaf atau sarung di bawa pulang adalah sedekah.
Ada beberapa lampu kuno bernilai dua puluh hingga 50 juta terpasang. Mesin pengeras suara dan ampli berikut salon saya beli senilai 85 juta sepaket.
Tak ada karpet. Lantai beralaskan kayu jati kuno bekas peti tembakau, kuat, hitam dan mahal. Sepekat asap kretek djie sam soe.
Tak ada marbot. Tak ada petugas keamanan. Tak ada pengurus yang legitimate. Semua dikerjakan bersama. Tak ada rapat takmir. Tak ada rapat pengurus. Tak ada jadwal kultum. Tak ada jadwal muadzin, tak ada jadwal khatib. Gantian siapa yang sempat. Tak ada pengumuman kotak amal hasil Infaq.
Pernah ada kultum ba’da shubuh rutin sepekan kemudian libur sebulan, sesekali nderes Tafsir Ibnu Katsir, Fidzi Lalil Quran, Bidayatul Mujtahid, Fathul Mu’in, Al Hikam, Aqidatul Awwam, MKCH, Fatwa Tarjih, kemudian libur panjang tidak ngaji sama sekali.
Sesekali ada kambing jantan gemuk, atau seekor ayam atau ikan di makan bareng, kadang ketela dan ubi rebus. Kadang juga kerupuk atau dua bungkus sanghai. Sesekali ada rombong bakso atau tahu campur usai shalat maghrib hingga menjelang isya. Kadang air putih segelas di minum bareng.
Sepi dan Lengang. Di Padhang Makhsyar, tidak ada kepastian; “Kepastian di Padhang Makhsyar adalah Ketidak Pastian itu sendiri”.







