spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaKajian Rutin PRA Banyu Urip : Membangun Keluarga Berkemajuan, Peran Kakek Nenek...

    Kajian Rutin PRA Banyu Urip : Membangun Keluarga Berkemajuan, Peran Kakek Nenek Tak Bisa Diabaikan

    Surabaya, kartanusa – Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Banyu Urip kembali menggelar Kajian Ahad Rutin yang diselenggarakan setiap Ahad ke-4, dengan mengangkat tema; “Kakek Nenek Bijak, Buah Hati Hebat”. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya ‘Aisyiyah dalam memperkuat ketahanan keluarga dan pendidikan generasi berkemajuan. Ahad (25/01/2026).

    Dalam kajian tersebut, Ustadz Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya hadir sebagai pengisi ceramah. Ia menekankan bahwa tanggung jawab menjaga iman dan akhlak keluarga merupakan perintah Allah SWT sebagaimana tertuang dalam QS. At-Tahrim ayat 6, yang mengingatkan setiap muslim agar menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka.

    “Tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak orang tua, tetapi juga melekat pada kakek dan nenek. Selaras dengan maraknya ayah-bunda bekerja sehingga anak-anak dalam pengasuhan kakek-nenek.” Ujarnya.

    Lebih lanjut, Ustadz Imam menjelaskan bahwa di tengah tantangan era digital, peran kakek dan nenek menjadi semakin strategis. Menurutnya, metode pendidikan anak dan cucu perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam.

    “Hal ini sejalan dengan pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. agar anak dididik sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di masa yang berbeda dengan generasi sebelumnya.” Ungkapnya.

    Ia juga mengingatkan agar orang tua serta kakek dan nenek tidak memaksakan kehendak dalam mendidik anak. Setiap anak memiliki kecerdasan dan potensi yang berbeda. Pola asuh yang kaku dan tidak tepat dapat berdampak pada perilaku anak, seperti mudah marah, manja, dan malas, bahkan berpotensi memicu konflik antara orang tua dan kakek-nenek.

    Ustadz Imam juga mengingatkan tentang sejumlah sikap yang perlu dihindari oleh kakek dan nenek, antara lain membatalkan aturan ayah dan bunda, mengkritik orang tua di hadapan cucu, membandingkan menantu maupun cucu, serta mengungkit jasa dan pengorbanan.

    “Perilaku tersebut dapat merusak wibawa orang tua dan keharmonisan keluarga.” Tegas Ustadz Imam yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kwartir Daerah Hizbul Wathan Kota Surabaya ini.

    Sebagai solusi, lanjut Gus Imsap, panggilan akrabnya, mendorong kakek dan nenek untuk memahami dunia anak di era digital, menanamkan adab dan akhlak mulia, membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kasih sayang, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Kakek-nenek dan ayah-bunda diharapkan berperan aktif dalam mendampingi anak-anak dalam penggunaan media sosial secara bijak.” Tandasnya.

    Menutup kajian, Ustadz Imam yang juga Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng ini menegaskan bahwa kehebatan seorang anak dan cucu tidak terlepas dari pendidikan dan keteladanan keluarga.

    Sementara itu, melalui kajian rutin ini, Ketua PRA Banyu Urip, Ustadzah Ririn, berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun keluarga yang kuat iman dan berakhlak mulia.

    “Melalui kajian rutin ini, kami berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun keluarga yang kuat iman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.” Pungkasnya. (Atika).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here