Inspirasi Kehidupan : Jangan Khawatir dengan The New Truth
Refleksi Hari Pers Nasional; Kebenaran Tetap Kebenaran, Allah SWT yang Jamin
Oleh Ustadz Salman Alfarisi BMR, S.H.I.
(Guru Ismuba SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya)
Konsep Kebenaran Baru (The New Truth) yang sering dilontarkan oleh Dahlan Iskan sebenarnya merupakan kritik tajam terhadap fenomena disrupsi informasi di era digital. Dalam pandangannya, bahwa kebenaran saat ini tidak lagi bersifat tunggal atau otoritatif, melainkan sangat cair dan sering kali dibentuk oleh persepsi publik.
Berikut ini adalah ulasan singkat mengenai fenomena tersebut dan solusi yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa itu Kebenaran Baru?
Dahlan Iskan melihat bahwa di era media sosial, kecepatan sering kali mengalahkan kebenaran. Sesuatu dianggap benar bukan karena validitas faktanya, melainkan karena:
Pertama, Viralitas; Semakin sering dibagikan, semakin dianggap benar.
Kedua, Echo Chamber; Kita cenderung hanya mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi kita.
Ketiga, Algoritma; Teknologi menyuapi kita dengan apa yang kita suka, bukan apa yang kita butuhkan (fakta).
Solusi Menghadapi Kebenaran Baru
Menghadapi arus informasi yang liar ini, solusinya bukan sekadar membatasi akses, melainkan memperkuat kapasitas individu dan kolektif. Berikut ini adalah beberapa hal yang mestinya jadi perhatian kita, yakni:
Pertama, Literasi Digital; Tabayyun Modern. Langkah pertama adalah kembali ke prinsip verifikasi.
“Jangan langsung menelan informasi mentah-mentah”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya :“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6).
Gunakan logika dasar: Siapa sumbernya? Apa kepentingannya? Apakah ada media arus utama yang mengonfirmasi?
Kedua, Integritas Media Arus Utama; Mainstream Media. Solusi besar ada di tangan pers. Media konvensional tidak boleh ikut-ikutan mengejar clickbait. Media harus memosisikan diri sebagai kurator kebenaran.
“Jika media sosial menyebarkan debu informasi, media massa harus menjadi penyaringnya”
Ketiga, Bersikap Skeptis yang Sehat; Dahlan Iskan sering menekankan pentingnya akal sehat. Kita perlu memiliki mindset skeptis: mempertanyakan segala sesuatu sebelum mempercayainya.
“Kebenaran baru sering kali hanyalah opini yang dibungkus dengan bungkus fakta”
Keempat, Regulasi dan Etika Digital; Pemerintah perlu hadir bukan untuk membungkam kritik, melainkan untuk menegakkan hukum terhadap fitnah dan hoaks yang terorganisir. Di sisi lain, etika pengguna internet (netizen) harus terus ditingkatkan melalui edukasi formal maupun informal.
“Di era sekarang, bukan lagi yang benar yang menang, tapi yang paling banyak dibicarakan yang dianggap benar”
Pandangan beliau adalah sebuah peringatan agar kita tidak menjadi robot yang hanya digerakkan oleh algoritma media sosial. Solusi utamanya tetap kembali pada kekuatan akal sehat dan kejujuran nurani.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ
Artinya :“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 147).
“Kebenaran Tetap Kebenaran, Allah SWT yang Jamin”







