spot_img
No menu items!
More
    HomeAgamaIni Pesan KH Sholihan dalam Safari Perdana MUI Kecamatan Wringinanom

    Ini Pesan KH Sholihan dalam Safari Perdana MUI Kecamatan Wringinanom

    Gresik, kartanusa – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Wringinanom menggelar Safari Ramadhan perdana tahun 1447 H/2026 M pada Senin (23/02/2026). Kegiatan ini menjadi agenda pembuka rangkaian Safari Ramadhan yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia tingkat kecamatan sebagai upaya mempererat ukhuwah Islamiyah dan membangun sinergi lintas organisasi kemasyarakatan Islam. Dalam rilisnya Sabtu (28/02/2026).

    Safari Ramadhan perdana tersebut dilaksanakan di Masjid Al Ihsan Lebanisuko, Masjid milik Muhammadiyah yang berada di Desa Lebanisuko, dan selanjutnya di Masjid Nahdatul Ulama dan LDII di wilayah Kecamatan Wringinanom.

    Ratusan jamaah dari berbagai unsur masyarakat tampak memadati Masjid untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan.

    Safari Ramadhan ini menjadi momentum penting bagi jajaran pengurus MUI tingkat kecamatan untuk mempererat silaturahmi sekaligus menyampaikan peran dan fungsi MUI di tengah kehidupan umat.

    Melalui kegiatan ini, MUI ingin menegaskan posisinya sebagai wadah pemersatu umat Islam yang menaungi berbagai organisasi keislaman dengan latar belakang manhaj dan tradisi yang berbeda.

    Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan sholat Isya’ dan sholat Tarawih berjamaah. Usai ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan sesi silaturahmi antara pengurus MUI Kecamatan Wringinanom bersama jamaah.

    Acara kemudian dibuka dengan sambutan Ketua MUI Kecamatan Wringinanom, KH. Mohammad Ali Ismail Mustofa, M.Pd.I., yang menyampaikan apresiasi atas partisipasi masyarakat serta dukungan seluruh unsur organisasi Islam yang hadir.

    Sambutan berikutnya disampaikan oleh Camat Wringinanom yang mengapresiasi peran strategis MUI dalam menjaga keharmonisan umat, khususnya di tengah keberagaman pandangan dan tradisi ibadah.

    Pemerintah kecamatan, menurutnya, siap bersinergi dengan MUI untuk menjaga stabilitas sosial dan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat.

    Tausiyah utama disampaikan oleh Drs. KH. Mohammad Sholihan selaku Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Dalam tausiahnya, ia menegaskan bahwa MUI adalah pemersatu umat. Melalui MUI, berbagai organisasi Islam dapat bersatu dalam satu wadah, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta Lembaga Dakwah Islam Indonesia.

    “Perbedaan di antara organisasi-organisasi tersebut bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi keindahan apabila dikelola dengan sikap saling menghormati.” Tegasnya.

    Ia kemudian mengibaratkan perbedaan tersebut seperti warna-warna pelangi. Justru karena beragam, pelangi tampak indah dan mempesona. Pesan ini disampaikan untuk menanamkan sikap tasamuh (toleransi) serta menjauhkan umat dari sikap fanatisme sempit yang berpotensi memecah persatuan.

    Untuk memperkuat pesannya, KH. Sholihan menceritakan beberapa teladan dari para tokoh bangsa dan ulama. Ia mengisahkan dialog seorang Menteri Agama Republik Indonesia yang pernah ditanya tentang jumlah rakaat sholat tarawih yang benar.

    “Sang menteri menjawab bahwa tarawih delapan rakaat benar, dua puluh rakaat juga benar, dan yang keliru adalah orang yang tidak melaksanakan tarawih sama sekali.” Ungkapnya.

    Contoh lain, ia menyebutkan kisah kebersamaan antara Buya Hamka yang merupakan tokoh Muhammadiyah dengan Idham Chalid dari kalangan NU. Ketika KH. Idham Chalid menjadi imam, beliau tidak membaca qunut demi menghormati Buya Hamka. Pada kesempatan lain, Buya Hamka pun melakukan hal serupa sebagai bentuk saling menghargai perbedaan praktik ibadah.

    KH. Sholihan juga menuturkan keteladanan Abdul Rozak Fachruddin yang dikenal dengan Pak AR Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang pernah diminta menjadi imam di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Saat itu, beliau sempat bertanya kepada jamaah mengenai jumlah rakaat tarawih.

    Secara kompak jamaah menjawab 20 roka’at, namun setelah proses mendapat 8 roka’at dan durasi sholatnya lama sekali, akhirnya Pak AR menoleh dan bertanya kepada jamaah, ini dilanjut 20 roka’at atau 8 saja, sontak jamaah menjawab dengan kompak, 8 saja Yai, karena pemikiran jamaah“, yang 8 roka’at saja lama sekali apalagi yang 20 roka’at, akhirnya semua menerimanya dengan penuh lapang dada.

    Kisah persahabatan dan keakraban lintas organisasi juga terlihat dari hubungan antara Malik Fajar dengan Hasyim Muzadi. Dalam sebuah perjalanan, KH. Hasyim Muzadi sempat menegur Malik Fajar yang sedang merokok, karena Muhammadiyah dikenal memiliki pandangan tegas tentang rokok.

    Dengan guyon khas persahabatan, Malik Fajar menjawab bahwa saat itu ia “saya sekarang ikut NU”. Candaan tersebut menggambarkan betapa kuatnya semangat saling menghormati di antara para tokoh umat.

    Melalui Safari Ramadhan ini, MUI Kecamatan Wringinanom berharap semangat persatuan, toleransi, dan kebersamaan antar ormas Islam terus terjaga. MUI ingin menjadi rumah besar umat Islam yang mampu merangkul perbedaan, sekaligus menguatkan peran dakwah yang menyejukkan di tengah masyarakat. (Rahmat Syayid Syuhur).

    STAI
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here