Surabaya, kartanusa – Terus berkemajuan dan mencerahkan, Sekolah Unggul Nasional SMP Muhammadiyah 5 (Spemma) Pucang Surabaya selalu melaksanakan penguatan pendidikan karakter yang merupakan amanah dari persyarikatan Muhammadiyah, yakni pembinaan dan kaderisasi organisasi otonom Muhammadiyah di lingkungan masing-masing, yakni; IPM, Hizbul Wathan dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Kali ini melalui mimbar Masjid, dimana siswa diberi kesempatan belajar menjadi khatib di Masjid Sholahuddin Spemma Pucang Surabaya. Pada Jum’at (31/07/2026) yang mendapatkan amanah adalah Muhammad Naufal Arsyad, Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PR IPM) Spemma Pucang Surabaya.
“Masa remaja adalah masa transisi yang penuh dengan gelora semangat, rasa ingin tahu yang tinggi, serta pencarian jati diri. Pada fase ini, anak-anak muda kita berada di simpang jalan.” Ujar Naufal, panggilan akrabnya, Ketum PR IPM Spemma Pucang Surabaya.
Menurutnya, jika diarahkan dengan nilai-nilai agama, mereka akan menjadi aset yang luar biasa bagi agama dan bangsa. Namun sebaliknya, jika salah melangkah, jurang kehancuran, penyesalan, dan dosa besar siap menanti.
Naufal juga menegaskan bahwa di antara ujian terbesar bagi pemuda hari ini adalah arus pergaulan bebas yang kini kian mengkhawatirkan. Batasan-batasan perantara antara laki-laki dan perempuan sering kali diabaikan dengan dalih “kekinian” atau “modernitas”.
“Padahal, Islam sebagai agama yang sempurna, telah memberikan panduan yang sangat jelas agar manusia selamat dunia dan akhirat.” Tegas Naufal yang juga Pengurus Remaja Masjid (Remas) Sholahuddin Spemma Pucang Surabaya ini.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
Artinya :“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32).
“Melalui ayat tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa tidak hanya melarang kita untuk berbuat zina, tetapi melarang kita untuk mendekati zina.” Tegasnya.
Mengapa demikian? Karena zina adalah dosa besar yang tidak hanya merusak martabat pelacur moralnya, tetapi juga merusak garis keturunan (nasab), memicu penyakit berbahaya, dan mendatangkan murka Allah SWT.
“Islam sangat memahami psikologi manusia. Oleh karena itu, larangan mendekati zina berarti melarang segala pintu atau jalan yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan keji tersebut.” Ungkapnya.
Di antara langkah-langkah preventif (pencegahan) yang diajarkan Islam dalam menjaga pergaulan remaja adalah:
Pertama, Menjaga Pandangan (Ghadhul Bashar): Pandangan adalah panah beracun dari anak panah iblis. Awal dari ketertarikan terlarang biasanya bermula dari pandangan mata yang tidak dijaga.
Kedua, Membatasi Khalwat (Berdua-duaan)
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya; “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali yang ketiga adalah setan.” (HR. Tirmidzi).
“Interaksi tanpa ada pengawasan yang sah di tempat sepi sangat rentan memicu godaan maksiat.” Katanya.
Ketiga, Selektif dalam Memilih Teman: Lingkungan pergaulan sangat menentukan akhlak seseorang. Teman yang baik akan menarik kita kepada kebaikan, sementara teman yang buruk dapat menyeret kita ke dalam kubangan dosa.
“Rasulullah SAW mengibaratkan teman yang baik seperti penjual minyak wangi, dan teman yang buruk seperti tukang tiup pandai besi.” Pungkasnya.
Keempat, Menyibukkan Diri dengan Hal Positif: Energi besar yang dimiliki para remaja harus disalurkan ke dalam kegiatan yang produktif, seperti menuntut ilmu, menghafal Al-Qur’an, aktif di organisasi positif, dan mengembangkan keterampilan. (Humas/Gus).








