spot_img
spot_img
No menu items!
More
    HomeOpiniBangsa Yatim yang Terusir dari Rumah Sendiri

    Bangsa Yatim yang Terusir dari Rumah Sendiri

    Bangsa Yatim yang Terusir dari Rumah Sendiri

    Oleh Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid, M.Phil., Ph.D., MRINA.

    (Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Bela Negara Jawa Timur)

    Tidak banyak yang tahu bahwa 24 tahun silam, bangsa ini sudah terusir dari rumahnya sendiri, tepatnya saat MPR hasil Pemilu 1999 mengganti UUD 1945 dengan UUD 2002. Oleh MPR produk reformasi tersebut, konstitusi yang sama sekali baru itu dibungkus dengan nama UUD NRI 1945.

    “Oleh kaum sekuler liberal dan kiri radikal yang menjadi otak pergantian konstitusi itu, langkah tersebut dibanggakan sebagai pencapaian paling ikonik dari gerakan reformasi”

    Memang benar, segera setelah desain “rumah” bangsa Indonesia selesai dirumuskan oleh para ulama, cendekiawan, dan negarawan, pembangunan berdasarkan UUD 1945 itu berjalan terseok-seok di tengah lanskap Perang Dingin. Bahkan, desainnya sempat berganti-ganti menjadi UUD RIS lalu UUDS, hingga akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Kembali ke UUD 1945 pada 5 Juli 1959 karena Konstituante gagal menyepakati konstitusi baru.

    “Soekarno kemudian menafsirkan UUD 1945 melalui konsep Nasakom, sedangkan Soeharto menafsirkannya melalui Eka Prasetya Panca Karsa”

    Begitu UUD 2002 berlaku, bangsa ini segera dipaksa masuk ke dalam “rumah” yang sebenarnya asing bagi jati dirinya sendiri. Semakin lama, bangsa ini menjadi yatim, tidak menemukan sakinah, mawaddah, wa rahmah.

    Oleh Prabowo Subianto, kondisi rumah tersebut disebut sebagai paradoks Indonesia: rakyat hidup miskin di negeri yang kaya raya. Politik sebagai kebajikan publik kian mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat biasa. Uang telah menjadi oksigen di dunia politik rumah baru itu. Janji-janji reformasi pun mandeg di jalan buntu.

    Ketika Prabowo Subianto merespons jalan buntu reformasi dengan mencanangkan transformasi Indonesia, bangsa ini perlu segera bangkit mengonsolidasikan diri untuk kembali menegakkan amanah UUD 1945. Di saat lanskap geopolitik global semakin multipolar dengan titik gravitasi yang bergeser ke Asia, momentum sejarah saat ini membuka kesempatan emas agar burung Garuda selamat dari “mulut Naga dan kaki Gajah”.

    fortasi
    previous arrow
    next arrow

    latest articles

    explore more

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here