Jakarta, kartanusa – Terus berkemajuan dan mencerahkan, Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 yang digelar di Auditorium KH. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/08/2026).
Kartu Wartawan Utama Khusus tersebut merupakan bentuk pengakuan Dewan Pers atas kiprah, dedikasi, dan pengabdian seseorang dalam dunia jurnalistik yang diberikan melalui proses verifikasi dan penilaian tertentu serta hanya dimiliki oleh sejumlah tokoh di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut juga, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk; “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan”. Orasi tersebut mengangkat peran strategis pers dalam membangun kehidupan kebangsaan sekaligus memperkuat hubungan antara media, nilai-nilai agama, dan semangat kebangsaan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini, menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya pers dan literasi sebagai bagian dari tradisi intelektual serta gerakan pencerdasan yang telah mengakar dalam perjalanan Muhammadiyah.
Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa pers merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, keberadaan media dan pers memiliki peran strategis dalam memastikan penyelenggaraan negara berjalan secara demokratis.
“Pers adalah pilar keempat dari demokrasi. Tanpa media, tanpa pers, saya yakin demokrasi akan sulit berjalan dengan baik.” Ujar Ma’mun, panggilan akrabnya.
Lebih lanjut, ia berharap media yang hadir dalam kegiatan tersebut dapat semakin mengukuhkan perannya sebagai pilar keempat demokrasi dengan turut mengawal dan mengontrol tiga pilar lainnya, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Sementara itu, Ketua Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, M.T., menjelaskan bahwa terdapat dua agenda utama dalam peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026, yakni:
Pertama, Penguatan kembali kesadaran mengenai sejarah dan peran pers serta literasi dalam gerakan Muhammadiyah.
Kedua, Penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Prof. Dr. Haedar Nashir.
“Pada 1915, Muhammadiyah telah menerbitkan Suara Muhammadiyah, kemudian Suara ’Aisyiyah serta berbagai media Muhammadiyah di tingkat daerah. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pers dan literasi bukan sekadar instrumen komunikasi, melainkan bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan yang telah menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak awal berdirinya.” Ujar Prof. Dr. Muchlas, M.T.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Muchlas, M.T., mengatakan, Muhammadiyah berkembang tidak hanya melalui amal nyata di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga melalui kekuatan intelektual yang diwujudkan dalam tradisi membaca, menulis, berdiskusi, menyebarkan pengetahuan, serta membangun kesadaran masyarakat.
“Literasi telah menjadi bagian dari DNA gerakan Muhammadiyah.” Tegasnya.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu kekuatan yang memungkinkan Muhammadiyah terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, melahirkan gagasan pembangunan, sekaligus membumikan Islam yang mencerahkan kehidupan.
Prof. Dr. Muchlas, M.T., juga menekankan bahwa pers yang sehat membutuhkan masyarakat dengan tingkat literasi yang baik. Sebaliknya, tradisi literasi juga membutuhkan media yang sehat untuk menciptakan ruang publik yang cerdas dan berkeadaban.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D., dalam kesempatan tersebut menyoroti tantangan dunia pers di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya profesi wartawan harus dijalankan dengan tanggung jawab, integritas, dan kompetensi, bukan sekadar menjadi pekerjaan.
Dalam tradisi Islam, lanjut Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D., bahwa informasi memiliki mekanisme verifikasi melalui konsep tabayyun. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu prinsip penting dalam memastikan informasi yang diterima masyarakat dapat dipertanggungjawabkan.
“Berita itu dalam tradisi Islam punya tradisi untuk dilakukan tabayyun atau verifikasi.” Katanya.
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D., kemudian mencontohkan tradisi verifikasi dalam sejarah transmisi Al-Qur’an dan hadis, termasuk melalui mekanisme sanad dalam memastikan keabsahan suatu informasi. Kebutuhan masyarakat terhadap informasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
“Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat terus terhubung dengan informasi melalui perangkat telepon pintar.” Pungkasnya.
Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di UMJ diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara tradisi literasi, profesionalisme jurnalistik, dan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam menghadapi tantangan informasi di era digital dan kecerdasan buatan. (Humas/Gus).








