Surabaya, kartanusa – Di tengah tantangan regenerasi pengurus masjid dan perkembangan dunia digital yang semakin pesat, sudah saatnya para takmir berani memberikan ruang lebih luas kepada generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan masjid.
Anak-anak muda bukan hanya calon penerus, melainkan aset yang harus dipersiapkan sejak dini agar mampu mengambil peran dalam memakmurkan masjid dan mengembangkan dakwah di berbagai lini. Semangat inilah yang menjadi landasan Masjid Istiqoomah Gubeng Surabaya menyelenggarakan Workshop Media Kemasjidan bagi kader-kader muda Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dalam rilisnya Selasa (23/06/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 20 Juni 2026 tersebut merupakan tindak lanjut dari program studi tiru yang sebelumnya dilakukan oleh Pengurus Masjid Istiqoomah ke Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran pada Mei 2026 lalu.
Workshop berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 19.00 WIB dan dipusatkan di Masjid Istiqoomah yang beralamat di Jalan Jojoran III No.146, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya.
Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) Masjid Istiqoomah bertindak sebagai panitia sekaligus peserta dalam kegiatan tersebut. Belasan kader muda mengikuti workshop dengan penuh antusias sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan mereka dalam pengelolaan media sosial dan dakwah digital masjid.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) setempat, Ustadz Kastari Aburidza, S.T., Ketua Takmir Masjid Istiqoomah, Ustadz Chairul Bashori, sesepuh sekaligus penasihat masjid Haji Jiran, serta para kader IPM yang aktif dalam berbagai kegiatan kemasjidan.
Dalam sambutannya, Ketua Takmir Masjid Istiqoomah, Ustadz Chairul Bashori, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen masjid untuk terus mendukung dan membina generasi muda yang selama ini telah aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan.
“Supaya anak-anak muda yang telah aktif dalam mengurus dan mengelola masjid dapat meningkatkan semangatnya, hari ini kami mendatangkan narasumber untuk memberikan pembekalan kepada kalian dalam upaya pengelolaan media sosial masjid, sehingga dapat lebih berkembang dan lebih bermanfaat untuk jamaah umum. Narasumber hari ini merupakan praktisi di bidangnya dan telah membuktikan dengan pencapaian serta hasil yang luar biasa.” Ujar Ustadz Chairul Bashori.
Untuk memberikan wawasan yang lebih luas dan pengalaman praktis kepada peserta, panitia menghadirkan Bayu Firdaus sebagai narasumber utama. Bayu dikenal sebagai Marbot Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Ramah Musafir. Selain itu, ia juga aktif sebagai Dai Digital Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Selama sesi materi, Bayu Firdaus menyampaikan berbagai strategi pengelolaan media sosial masjid dengan gaya yang santai dan komunikatif. Meski dikemas dengan ringan, materi yang diberikan tetap sarat dengan pesan-pesan penting mengenai peran generasi muda dalam masa depan masjid.
Menurut Bayu, generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis dalam proses regenerasi masjid sekaligus pengembangan dakwah di era digital. Ia menilai bahwa media sosial saat ini telah menjadi ruang utama yang harus diisi dengan konten-konten positif dan bernilai dakwah.
“Hari ini para pegiat dakwah digital sedang melakukan perang. Perang bukan memperebutkan wilayah, tetapi memperebutkan perhatian. Setiap hari anak muda menghabiskan 4 hingga 8 jam di media sosial. Jika masjid tidak hadir di sana, maka ruang digital akan diisi oleh pihak lain. Karena itu remaja masjid hari ini bukan hanya penjaga kebersihan masjid, tetapi juga penjaga dakwah di ruang digital.” Ungkapnya.
Selain membahas aspek teknis pengelolaan media sosial, workshop ini juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat pelaksanaan ibadah. Para peserta diajak memahami bahwa masjid merupakan pusat pembinaan umat yang membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Bayu Firdaus juga memberikan apresiasi kepada Masjid Istiqoomah yang dinilai telah menunjukkan keberanian dalam melibatkan kader-kader muda untuk mengambil peran penting dalam pengelolaan masjid. Menurutnya, langkah tersebut merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan keberlangsungan dakwah dan kemakmuran masjid di masa mendatang.
Menutup sesi workshop, Bayu menyampaikan pesan inspiratif mengenai peran besar masjid pada masa Rasulullah SAW yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, informasi, ekonomi, dan perubahan sosial.
“Masjid pada zaman Rasulullah bukan hanya tempat sholat. Masjid adalah pusat pendidikan, pusat ekonomi, pusat informasi, dan pusat perubahan.” Tegasnya.
Hari ini media sosial, lanjutnya, adalah halaman depan masjid di dunia digital. Jika dulu dakwah dilakukan dari mimbar ke mimbar, maka hari ini dakwah juga dilakukan dari layar ke layar.
“Jadilah generasi yang tidak hanya aktif membuat konten, tetapi mampu menjadikan setiap konten sebagai jalan hadirnya kebaikan dan kebermanfaatan bagi umat.” Pesannya.
Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Salah satunya disampaikan oleh Poppy, pengelola media sosial Masjid Istiqoomah sekaligus peserta workshop.
“Materi yang disampaikan sangat memuaskan dan bermanfaat. Banyak hal baru yang kami pelajari dari penyampaiannya. Banyak wawasan dan pengalaman berharga yang kami peroleh.” Ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Masjid Istiqoomah berharap semakin banyak pengurus masjid yang menyadari pentingnya melibatkan generasi muda dalam berbagai aspek pengelolaan masjid. Ketika anak-anak muda diberi ruang untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi, mereka akan tumbuh menjadi kader yang memiliki rasa memiliki terhadap masjid.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah masjid tidak hanya diukur dari ramainya jamaah, tetapi juga dari kemampuannya menyiapkan generasi penerus yang siap melanjutkan estafet dakwah dan kemakmuran masjid di masa depan. (Darwis).